KALIMANTAN TENGAH — Jakarta — Adik kandung Presiden Prabowo Subianto itu buka suara di hadapan para pelaku industri pada International Indonesia Carbon Capture and Storage (ICCS) Forum 2026. Hashim menyebut pengalamannya di sektor migas bukan hal yang baru, melainkan sudah berjalan lebih dari tiga dekade.
"Saya sudah berkecimpung di industri minyak dan gas selama 34 tahun. Terus terang, saya sudah berada di industri minyak dan gas lebih lama daripada usia sebagian dari Anda," ujarnya di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Pengakuan Terbuka di Forum Iklim
Pernyataan ini menjadi menarik karena disampaikan tepat di forum yang membahas transisi energi dan teknologi penangkapan karbon. Hashim justru melihat teknologi tersebut sebagai penyelamat bagi industri yang selama ini menjadi sumber kekayaannya.
"Meskipun saya adalah Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk bidang iklim dan energi, ini adalah rahasia umum, saya tidak menyembunyikannya, bahwa sebagian besar kekayaan pribadi saya berasal dari (bisnis) bahan bakar fosil, minyak dan gas, serta pertambangan," jelasnya.
Karbon Jadi Penopang Bisnis Migas
Di hadapan para peserta forum, Hashim memaparkan bahwa teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) justru menjadi kunci keberlanjutan industri migas. Menurutnya, teknologi ini tidak hanya menekan emisi, tetapi juga mampu meningkatkan produksi dari sumur-sumur minyak tua yang selama ini dianggap sudah tidak efisien.
"Jadi, apa yang Anda lakukan membuat saya dan teman-teman kita, banyak di antara mereka yang hadir di sini, tetap menjalankan bisnis," kata Hashim.
Ia menilai industri CCS membawa pesan harapan dan optimisme bagi kelangsungan sektor energi fosil di tengah tekanan global untuk beralih ke energi bersih. "Karena apa yang Anda lakukan pada dasarnya menopang salah satu industri terpenting kita, yaitu bahan bakar fosil dan energi," bebernya.
Dilema Transisi Energi di Indonesia
Pengakuan Hashim ini menyoroti dilema besar yang dihadapi Indonesia dalam transisi energi. Di satu sisi, negara ini masih sangat bergantung pada pendapatan dari migas dan batu bara. Di sisi lain, tekanan internasional untuk mengurangi emisi karbon semakin kuat.
Dengan pengalaman 34 tahun di industri migas, Hashim menegaskan bahwa solusi seperti CCS menjadi jembatan yang memungkinkan Indonesia tetap mengelola sumber daya alamnya sembari memenuhi komitmen iklim global. Baginya, keberlanjutan bisnis dan kelestarian lingkungan bukan dua hal yang harus dipertentangkan.
Pernyataan ini sekaligus menjawab berbagai pertanyaan publik mengenai potensi konflik kepentingan di balik penunjukannya sebagai utusan khusus bidang iklim. Hashim memilih pendekatan transparan dengan mengakui latar belakang bisnisnya secara terbuka di forum internasional tersebut.