JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tidak hanya fokus merehabilitasi kerusakan akibat bencana, tetapi juga menyiapkan infrastruktur mitigasi agar dampak bencana serupa dapat diminimalkan di masa depan. Menteri PU Dody Hanggodo memastikan langkah ini berjalan beriringan dengan pemulihan di Sumatera dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Delapan Sabo Dam di Gunung Marapi Sudah Dibangun sejak Maret 2026
Di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat, pembangunan delapan sabo dam tahap pertama telah dimulai sejak Maret 2026.
Lima unit berada di Kabupaten Tanah Datar dan tiga unit lainnya di Kabupaten Agam.
Delapan sabo dam tersebut dirancang memiliki kapasitas tampung sedimen sekitar 440.000 meter kubik, untuk menahan material apabila aktivitas Gunung Marapi kembali memicu aliran material ke wilayah di bawahnya.
56 Sabo Dam Direncanakan Dibangun di 24 Sungai hingga 2029
Pembangunan sabo dam di Marapi baru menjadi tahap awal dari rencana yang lebih besar.
Pemerintah menargetkan pembangunan total 56 sabo dam secara bertahap di 24 sungai sepanjang periode 2026-2029.
Langkah ini disiapkan sebagai antisipasi jangka panjang mengingat Gunung Marapi masih berpotensi memicu aliran material ke permukiman warga.
Mitigasi Berjalan Beriringan dengan Rehabilitasi di Sumatera
Pembangunan sabo dam ini berjalan bersamaan dengan rehabilitasi infrastruktur pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi akhir 2025.
Berdasarkan data Kementerian PU per 20 Agustus 2026, sebagian besar infrastruktur di tiga provinsi tersebut sudah kembali fungsional, meliputi:
- Seluruh 107 ruas jalan nasional dan 43 jembatan nasional terdampak.
- 2.291 dari 2.421 ruas jalan daerah (94,63 persen) dan 827 dari 1.184 jembatan daerah.
- 178 SPAM, terdiri atas 71 di Aceh, 45 di Sumatera Utara, dan 62 di Sumatera Barat.
- 1.794 dari 1.914 unit hunian di 18 lokasi, dengan 120 unit sisanya masih dikerjakan di Sumatera Utara.
- 702 fasilitas umum yang tercatat telah rampung.
Meski begitu, sejumlah irigasi dan bendung masih dalam proses: baru 13 dari 31 daerah irigasi kewenangan pusat yang selesai, dua dari 65 daerah irigasi kewenangan daerah, empat dari 14 bendung nasional, dan tiga dari 52 bendung daerah.
Gempa M7,7 di Flores Jadi Pengingat Pentingnya Mitigasi
Urgensi pembangunan infrastruktur mitigasi kian terasa setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Flores, NTT, pada pertengahan Agustus 2026.
Bencana itu merusak sejumlah ruas jalan, jaringan air bersih, dan fasilitas publik di kawasan terdampak.
Saat meninjau ke Kabupaten Nagekeo, Dody meminta pemerintah daerah segera melaporkan titik-titik kerusakan tanpa menunggu pendataan rampung.
“Kami hadir pada setiap bencana, karena arahan Pak Presiden sudah jelas bahwa kita tidak boleh berduka berlama-lama, secepatnya kita harus bangkit. Jadi saya mohon diberikan data lengkapnya, titik-titiknya. Sehingga kami bisa menurunkan tim segera, bisa berkoordinasi dengan kepala-kepala dinas, bisa langsung mengecek satu per satu dan langsung bekerja,” kata Dody.
Penanganan Darurat di NTT Berjalan Cepat Sebelum Masuk Tahap Mitigasi
Sebelum masuk ke tahap mitigasi jangka panjang, Kementerian PU lebih dulu menuntaskan tanggap darurat di NTT.
Per 16 Agustus 2026, sembilan ruas jalan nasional yang terdampak gempa sudah kembali berfungsi, delapan di antaranya di jalur Trans Flores dan satu ruas Ruteng-Reo-Kedindi.
Sebanyak 40 titik longsoran dan empat titik patahan jalan ditangani menggunakan tujuh ekskavator dan empat loader.
Ruas Krica-Lidi sepanjang 4,1 kilometer dengan 10 titik longsor masih ditangani, dan per 19 Agustus 2026 tim berhasil menembus salah satu titiknya.
Air bersih di Ende dipulihkan dalam semalam, sementara 7.000 warga di delapan desa Pulau Palue mendapat bantuan empat tandon berkapasitas 1.200 liter, dan survei geolistrik disiapkan untuk sumber air jangka panjang.
Sebanyak 14 personel juga diterjunkan memeriksa Rumah Sakit Komodo, kantor pemerintahan, rumah ibadah, dan fasilitas umum, sementara Daerah Irigasi Mbay Kiri Lanjutan rusak sepanjang 250 meter dan berdampak pada 175 hektare lahan.
Kesimpulan
Pembangunan sabo dam di Gunung Marapi menunjukkan bahwa penanganan bencana Kementerian PU tidak berhenti pada rehabilitasi semata, tetapi juga bergerak ke arah pencegahan.
Pola yang sama, yakni tanggap cepat lalu dilanjutkan mitigasi, kini diterapkan pula di NTT pascagempa Flores.
Tujuannya agar wilayah yang pernah terdampak bencana tidak hanya pulih, tetapi juga lebih siap menghadapi ancaman serupa di masa mendatang.
Tanya Jawab Seputar Sabo Dam dan Mitigasi Bencana Kementerian PU
Apa itu sabo dam dan untuk apa fungsinya?
Sabo dam adalah infrastruktur yang dibangun untuk menahan material sedimen dan mengurangi dampak aliran material dari gunung, seperti yang dibangun di kawasan Gunung Marapi, Sumatera Barat.
Berapa jumlah sabo dam yang direncanakan di Gunung Marapi?
Pemerintah merencanakan pembangunan total 56 sabo dam secara bertahap di 24 sungai sepanjang 2026-2029, setelah delapan unit tahap pertama mulai dibangun sejak Maret 2026.
Bagaimana progres rehabilitasi infrastruktur di Sumatera saat ini?
Per 20 Agustus 2026, seluruh 107 ruas jalan nasional dan 43 jembatan nasional di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sudah kembali fungsional, meski sejumlah irigasi dan bendung masih dikerjakan.
Apa yang memicu Kementerian PU mempercepat penanganan di NTT?
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada pertengahan Agustus 2026 merusak jalan, air bersih, dan fasilitas publik, sehingga mendorong Menteri PU Dody Hanggodo meminta percepatan penanganan.