KALIMANTAN TENGAH — Bank Negara Malaysia (BNM) mencatat ekspansi ekonomi 6% pada periode April-Juni 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 5,4% pada kuartal sebelumnya. Angka ini juga melampaui estimasi awal pemerintah dan median survei ekonom yang dirangkum Reuters. Hampir seluruh sektor menunjukkan perbaikan, kecuali pertanian yang masih terkontraksi.
Permintaan Domestik dan Investasi Jadi Penopang Utama
Gubernur BNM Abdul Rasheed Ghaffour menyebut pertumbuhan tahun ini berpotensi menyentuh 5%, berada di batas atas proyeksi bank sentral sebesar 4-5%. Pada 2025, ekonomi Malaysia tumbuh 5,2%.
"Permintaan komersial diperkirakan akan tetap tangguh, didorong oleh belanja rumah tangga dan aktivitas investasi," ujarnya dalam konferensi pers, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, ekonomi Negeri Jiran relatif kebal terhadap gejolak akibat konflik Timur Tengah. Fondasi permintaan domestik yang kuat, arus investasi stabil, dan pertumbuhan ekspor menjadi perisai utama.
Inflasi Terkendali, Suku Bunga Tetap di Level Aman
BNM telah menahan suku bunga acuan selama enam kali pertemuan kebijakan berturut-turut. Langkah ini ditempuh di tengah inflasi yang masih jinak, meski harga komoditas global mulai memberi tekanan.
Abdul Rasheed memperkirakan inflasi tahun ini tetap terkendali. Subsidi bahan bakar dan bantuan pemerintah lainnya disebutnya mampu meredam gejolak harga. "Bank sentral menganggap sikap kebijakan moneternya tepat dan konsisten dengan prospek stabilitas harga yang berkelanjutan serta pertumbuhan ekonomi yang lestari," tegasnya.
Ekspor Beras ke Malaysia Jadi Peluang Baru bagi Petani Indonesia
Di tengah momentum pertumbuhan Malaysia, Indonesia mulai memanfaatkan celah pasar. Pemerintah resmi meluncurkan ekspor perdana 1.000 ton beras premium ke Sarawak, Malaysia, Sabtu (15/8/2026). Pengiriman ini menjadi yang pertama setelah Indonesia mencapai swasembada pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan stok beras nasional aman. Bulog saat ini memegang 5,2 juta ton beras, bahkan pemerintah disebutnya memiliki surplus hingga 2 juta ton yang mengharuskan penyewaan gudang tambahan.
"Dulu kita pernah ekspor ke Palestina, ke Mesir, nah sekarang kita ekspor ke Malaysia," ujar Amran dalam keterangan tertulis.
Kebutuhan Sarawak Capai 200.000 Ton per Tahun
Amran menuturkan volume ekspor berpotensi meningkat signifikan. Kebutuhan beras Sarawak saja mencapai 200.000 ton per tahun, sementara total kebutuhan Malaysia diperkirakan 1,5-1,7 juta ton per tahun.
Kerja sama ini telah dibahas langsung dengan Menteri Pertanian dan Keterjaminan Makanan Malaysia, Datuk Seri Mohamad Sabu. Pemerintah Malaysia disebutnya merespons positif dan siap mempercepat penambahan pasokan.
Beras yang diekspor merupakan jenis premium dengan harga kesepakatan sekitar 3,9 Ringgit Malaysia atau setara Rp 17.000 per kilogram. Jika volume mencapai 200.000 ton, nilai perdagangan diperkirakan tembus Rp 3,39 triliun.
Amran menegaskan pembukaan pasar ekspor ini menjadi langkah konkret untuk meningkatkan kesejahteraan petani. "Nah justru inilah langkah kesejahteraan petani karena kita ekspor," pungkasnya.