KALIMANTAN TENGAH — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengonfirmasi kewajiban pencampuran etanol dalam bensin (bioetanol) akan dimulai pada 2027. Tahap awal, pemerintah menargetkan implementasi E5 atau campuran etanol lima persen harus sudah berjalan sebelum Desember 2026.
"Arahan Bapak Presiden (Prabowo Subianto), etanol kita harus lakukan. Maka, mandatori akan kami lakukan 2027," ucap Bahlil dikutip dari Antara.
Skema Bertahap dari E5 ke E20
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi merinci peta jalan penerapan bioetanol. Setelah mandatori E5 berjalan pada akhir 2026, pemerintah akan langsung menaikkan ke E10 pada Januari 2027.
"Target kita kan intinya sebelum Desember sudah dimandatorikan dulu 5 persen karena Januari kan ngejar yang 10 persen. 2028 baru yang Januari 2028 baru 20 persen," jelas Eniya.
Saat ini, pemerintah bersama Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) tengah mempersiapkan uji jalan untuk BBM E20. Eniya mengaku sudah meminta asosiasi untuk segera melakukan road test guna memastikan kompatibilitas kendaraan di pasar Indonesia.
Mobil Produksi 2010 ke Atas Relatif Aman
Pengamat otomotif Yannes Pasaribu menilai kendaraan keluaran 2010 ke atas secara teknis sudah siap mengonsumsi bensin campuran etanol. Mesin-mesin tersebut dirancang memenuhi standar emisi Euro 4 dan Euro 5 dengan teknologi injeksi modern serta material yang tahan terhadap etanol.
"Desainnya memang disiapkan untuk konsumsi bahan bakar beretanol hingga E10, bahkan lebih. Dengan sistem pembakaran yang kompatibel, performa mesin meningkat dan emisi gas buang berkurang," ujar Yannes.
Eniya optimistis teknologi mesin kendaraan saat ini mampu menerima campuran etanol hingga 30 persen tanpa modifikasi berarti. Namun demikian, ada satu kelompok pengguna yang perlu waspada.
Risiko pada Mobil Tua Produksi Sebelum 2010
Yannes memperingatkan pemilik kendaraan buatan sebelum 2010 untuk lebih hati-hati. Pada mobil-mobil lawas, material komponen saluran bahan bakar—terutama komponen karet seperti selang dan penutup—belum dirancang tahan terhadap etanol di atas lima persen.
"Akibatnya, penutup dan pipa karetnya dapat cepat getas dan bisa menyebabkan kebocoran bahan bakar," sambung Yannes.
Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Buku panduan salah satu mobil terlaris di Indonesia, Toyota Avanza, secara eksplisit menyebutkan batas aman campuran etanol. Pabrikan hanya mengizinkan penggunaan bahan bakar dengan kandungan etanol maksimal 10 persen.
"Toyota membolehkan penggunaan bahan bakar campuran ethanol dengan kandungan hingga 10 persen. Pastikan bahwa campuran bahan bakar dengan ethanol yang digunakan memiliki angka oktan sesuai dengan di atas," tulis keterangan dalam buku manual Avanza.
Artinya, pemilik Avanza generasi awal yang masih beredar di jalan raya berpotensi mengalami masalah jika terpaksa mengisi bensin E20 saat mandatori penuh diterapkan pada 2028.