PALANGKA RAYA — Warga di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, Kalimantan Tengah, selama ini harus menempuh perjalanan jauh jika membutuhkan perawatan medis lanjutan. Fasilitas kesehatan yang ada di wilayah tersebut dinilai belum mampu menangani kasus-kasus yang memerlukan rujukan.
Akibatnya, banyak pasien terpaksa dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus di Palangka Raya. Jarak tempuh yang cukup jauh dan kapasitas rumah sakit rujukan yang terbatas kerap menjadi kendala utama.
Mengapa Rumah Sakit Tipe B Mendesak di DAS Barito?
Anggota DPRD Kalimantan Tengah, Purdiono, menyatakan bahwa pelayanan kesehatan di kawasan DAS Barito masih sangat terbatas. "Ketika dirujuk ke RSUD Doris Sylvanus juga sering terkendala jarak maupun ketersediaan ruang perawatan," ujarnya, Jumat.
Ia menilai kehadiran rumah sakit tipe B akan mempercepat proses rujukan. Selain itu, beban pelayanan di RSUD Doris Sylvanus yang selama ini menjadi satu-satunya rujukan utama juga bisa berkurang.
Lahan Sudah Disiapkan, Anggaran Jadi Tantangan
Purdiono mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Barito Timur telah menyiapkan lahan untuk proyek tersebut. Langkah ini menunjukkan keseriusan daerah dalam menyambut rencana pembangunan fasilitas kesehatan itu.
Meski demikian, ia mengakui kemampuan fiskal daerah masih terbatas. "Kami berharap pemerintah provinsi dan pemerintah pusat dapat memberi perhatian terhadap usulan ini. Kebutuhan layanan kesehatan masyarakat harus tetap menjadi prioritas," kata Purdiono.
Pemerataan Akses Kesehatan di Wilayah Barat Kalteng
Pembangunan rumah sakit tipe B di DAS Barito tidak hanya soal memperpendek jarak rujukan. Menurut Purdiono, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan pemerataan akses kesehatan bagi masyarakat di wilayah barat Kalimantan Tengah.
"Pemerataan pelayanan kesehatan harus menjadi perhatian agar masyarakat di seluruh daerah memperoleh pelayanan yang sama," ujarnya. Saat ini, RSUD Doris Sylvanus masih menjadi andalan utama bagi warga dari berbagai kabupaten di Kalteng.