Pencarian

Ribuan Pelajar SD dan SMP di Sampit Tetap Masuk Sekolah Saat Kabut Asap Masuk Level Berbahaya

Senin, 31 Agustus 2026 • 11:33:31 WIB
Ribuan Pelajar SD dan SMP di Sampit Tetap Masuk Sekolah Saat Kabut Asap Masuk Level Berbahaya
Ribuan pelajar SD dan SMP di Sampit tetap berangkat ke sekolah di tengah kabut asap dengan indeks kualitas udara mencapai 768.

SAMPIT — Ribuan pelajar SD dan SMP di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, masih tetap berangkat ke sekolah di tengah kabut asap yang kian pekat. Orang tua murid mempertanyakan kebijakan yang tetap mewajibkan anak-anak mereka hadir di kelas meski kualitas udara berada pada level berbahaya.

Senin pekan lalu, jarak pandang di Kota Sampit menurun drastis. Sejumlah pengendara memperlambat laju kendaraan dan menyalakan lampu pada siang hari, sementara bau asap menyengat tercium di hampir seluruh penjuru kota.

Indeks Kualitas Udara Capai 768, Masuk Level Berbahaya

Data yang terpantau melalui IQAir menunjukkan angka kualitas udara mencapai 768 dengan konsentrasi PM2.5 pada level yang dapat mengancam kelompok rentan, termasuk anak-anak. Angka tersebut masuk kategori berbahaya dan jauh melampaui ambang batas aman.

Kondisi ini membuat warga kesulitan bernapas tanpa masker. Bagi pelajar yang harus berjalan atau naik kendaraan ke sekolah, paparan polusi menjadi risiko yang tidak bisa dihindari setiap hari.

Kekhawatiran Orang Tua di Baamang

Rama, warga Baamang, mengungkapkan anaknya tetap diwajibkan berangkat ke sekolah meski udara di lingkungan rumahnya sangat tidak sehat. "Kabutnya tebal sekali. Anak saya tetap harus berangkat sekolah padahal udara seperti ini sangat tidak sehat," ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Surya yang mendesak pemerintah daerah segera mengambil keputusan sebelum dampak kesehatan meluas. "Jangan tunggu anak-anak sakit dulu baru bertindak. Keselamatan dan kesehatan mereka harus menjadi prioritas utama," tegasnya.

Pemda Dinilai Belum Tegas

Warga menilai pemerintah daerah belum menunjukkan langkah yang cukup tegas menghadapi situasi darurat asap. Karhutla masih terjadi di berbagai titik, sementara pelajar tetap menjalani aktivitas belajar di tengah paparan polusi udara yang pekat.

Para orang tua meminta kegiatan belajar mengajar dialihkan sementara ke rumah sampai kualitas udara kembali aman. Mereka berharap keselamatan dan kesehatan pelajar menjadi prioritas utama, bukan sekadar kelengkapan administrasi kehadiran.

Sampai berita ini ditulis, belum ada keputusan resmi yang mengubah mekanisme belajar mengajar. Kabut asap yang menyelimuti Sampit merupakan dampak dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di berbagai titik di Kotim.

Situasi ini menjadi peringatan bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya memadamkan api, tetapi juga melindungi warga, terutama anak-anak, dari paparan udara berbahaya yang berkepanjangan. (Nardi)

Follow kabarpalangkaraya.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: beritasampit.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks