KAPUAS — Tim Unit Pengelola Irigasi Dadahup memompa air dari saluran tersier menuju lokasi kebakaran di kawasan Tersier 2, 3, 4, dan 5 Kiri. Langkah ini ditempuh karena ketersediaan air menjadi faktor krusial dalam mempercepat pengendalian api di lahan gambut yang rawan menjalar.
Empat Pompa Disiagakan ke Titik Api
Sebanyak empat pompa portable disiagakan untuk mendukung proses pemadaman. Personel yang diterjunkan bertugas melakukan pemompaan, pemadaman, pemantauan, dan koordinasi lapangan secara simultan.
Pemanfaatan saluran tersier memungkinkan suplai air dilakukan lebih dekat ke titik api. Dengan demikian, waktu tempuh distribusi air jauh lebih singkat dibandingkan mengandalkan sumber air utama yang berjarak jauh.
Menteri PU: Infrastruktur Air Harus Optimal Saat Darurat
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa infrastruktur sumber daya air tidak hanya dibangun, tetapi juga harus dimanfaatkan secara optimal saat kondisi darurat. Hal ini disampaikannya dalam keterangan tertulis, Selasa (8/9/2026).
"Kementerian PU tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Untuk mendukung penanggulangan bencana, menjaga ketersediaan air, melindungi lingkungan, serta menjamin keselamatan masyarakat," kata Dody.
Rangkaian Penanganan di Dadahup
Penanganan di Bentuk Jaya A5 merupakan bagian dari rangkaian dukungan Kementerian PU di kawasan Dadahup. Sebelumnya, tim juga dikerahkan ke Tanah Restan B4 dan Desa Dadahup pada 24 Agustus 2026.
Pada 1 September 2026, giliran Desa Petak Batuah A2 yang mendapat dukungan pemadaman. Di lokasi tersebut, BWS Kalimantan II menerjunkan satu pompa portable dan 10 personel untuk mengendalikan kebakaran lahan.
Koordinasi Diperkuat Jelang Puncak Kemarau
Pemantauan kawasan dan kesiapan personel, pompa, serta sarana pendukung terus dilakukan untuk menghadapi kebutuhan penanganan lanjutan. Kementerian PU melalui BWS Kalimantan II juga memperkuat koordinasi dengan instansi terkait guna mengantisipasi kemunculan kembali titik api.
Langkah ini menjadi bagian kesiapsiagaan menghadapi kondisi kering selama musim kemarau. Termasuk mengantisipasi dampak El Nino yang berpotensi memperpanjang periode tanpa hujan di wilayah Kalimantan Tengah.