KALIMANTAN TENGAH — Bank Indonesia mengakui arus modal asing keluar dari pasar keuangan Indonesia setelah MSCI membuka opsi menurunkan status pasar modal dari Emerging Market ke Standalone Market. Outflow terpantau tidak hanya di saham, tetapi juga di Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyatakan outflow mulai terdeteksi sejak rilis konsultatif paper MSCI pada Jumat (16/10/2026). Arus keluar menyebar ke tiga instrumen sekaligus, bukan hanya pasar saham.
"Kita memang mengamati ada outflow di pasar saham sejak rilis konsultatif paper (MSCI) pada Jumat (16/10). Outflow tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi SBN juga outflow, SRBI juga outflow," kata Erwin dalam Taklimat Media di Kantor Pusat Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Tiga Instrumen yang Terkena Arus Keluar
Tekanan asing muncul di pasar saham, Surat Berharga Negara, dan SRBI dalam waktu bersamaan. Pola ini berbeda dari outflow biasa yang biasanya terpusat di satu kelas aset.
Erwin tidak mengungkap besaran nominal modal asing yang keluar akibat sentimen MSCI. Ia hanya memastikan likuiditas rupiah berada dalam jumlah cukup untuk memfasilitasi seluruh transaksi di pasar modal, SBN, maupun SRBI.
"Bagaimana pun transaksi di pasar keuangan itu memerlukan likuiditas rupiah, kita memastikan likuiditas rupiah berada pada jumlah yang cukup dan memadai untuk bisa memfasilitasi transaksi yang terjadi," ucap Erwin.
DNDF dan Intervensi Spot Jadi Senjata BI
BI menyiapkan dua jalur untuk meredam gejolak nilai tukar jika outflow MSCI berlanjut. Pertama, operasi Domestic Non-Deliverable Forward bagi investor yang menunda penarikan dana.
"Kalau masih bisa dengan DNDF, dalam pengertian mereka nggak mau keluar hari ini, ya cover dulu pakai DNDF dengan risiko nilai tukarnya aman. Tapi kalau mau keluar hari ini, ya kita masuk dengan intervensi spot," jelas Erwin.
Kedua, intervensi spot di pasar valas bagi investor yang tetap ingin merealisasikan penarikan dana pada hari yang sama. Kombinasi dua instrumen ini menjadi bantalan utama BI dalam menjaga rupiah.
Rupiah Sempat Tembus Rp 18 Ribu per Dolar
Pelemahan nilai tukar sempat terjadi setelah guncangan sentimen MSCI. Rupiah menembus level Rp 18 ribu per dolar AS, meski menurut BI pergerakannya tidak berlebihan.
"So far kalau kami lihat masih manageable, tidak berlebihan pergerakan nilai tukarnya. Ya sempat melemah di atas Rp 18 ribu, tetapi nggak terlalu jauh. Kita masih bisa kelola dengan baik dan mudah-mudahan shock-nya secara perlahan mulai reda," pungkas Erwin.
Apa Arti Standalone Market bagi Investor
Penurunan status ke Standalone Market akan mengeluarkan Indonesia dari indeks acuan MSCI yang selama ini menjadi dasar alokasi dana kelolaan global. Konsekuensinya, reksa dana dan ETF berbasis indeks berpotensi mengurangi bobot atau melepas kepemilikan saham Indonesia secara bertahap.
Bagi pemegang SBN dan SRBI, risiko utamanya ada di sisi permintaan lelang dan biaya imbal hasil. Berkurangnya pembeli asing biasanya mendorong yield naik, yang berarti beban bunga penerbitan negara ikut bertambah.
Erwin berharap guncangan pasar keuangan akibat peringatan MSCI mereda dengan sendirinya. Namun BI belum membeberkan besaran dana asing yang sudah keluar, sehingga skala tekanan sebenarnya belum terukur dari sisi angka.