KALIMANTAN TENGAH — Kontrak acuan CPO untuk pengiriman September 2026 ditutup menguat 0,67 persen ke posisi 4.677 ringgit Malaysia per ton pada pukul 14.53 WIB. Sebelumnya, harga sempat menyentuh 4.692 ringgit di awal sesi perdagangan, level yang terakhir kali terlihat pada 6 Mei 2026.
Dua Faktor Utama di Balik Reli Harga Sawit
Trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, kenaikan harga CPO didukung oleh dua faktor utama. Pertama, pelemahan ringgit Malaysia membuat harga komoditas ekspor seperti sawit menjadi lebih murah bagi pembeli asing. Kedua, harga minyak kedelai di bursa Chicago Board of Trade (CBOT) juga menguat, memberikan sentimen positif ke pasar minyak nabati secara keseluruhan.
"Minyak sawit menguat karena pelemahan ringgit dan dukungan dari minyak kedelai Chicago," ujar trader tersebut kepada Reuters.
Tekanan dari Harga Minyak Mentah
Meski naik, laju kenaikan CPO tertahan oleh pelemahan harga minyak mentah dunia. Harga minyak mentah yang lebih rendah biasanya mengurangi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel. Hal ini membatasi potensi kenaikan lebih lanjut pada harga CPO di sisa sesi perdagangan.
Kontrak acuan CPO sempat memangkas sebagian kenaikannya setelah mencapai level tertinggi harian. Trader menilai pasar masih mencermati pergerakan harga minyak mentah dan perkembangan permintaan dari negara-negara importir utama seperti India dan China.
Kenaikan harga CPO pekan ini menjadi kabar positif bagi produsen sawit di Indonesia dan Malaysia, dua negara penghasil minyak sawit terbesar dunia. Namun, volatilitas harga diperkirakan masih akan berlanjut seiring ketidakpastian pasar energi global.