KALIMANTAN TENGAH — Angka tersebut menunjukkan peran BSI sebagai bank syariah terbesar di Tanah Air dalam mendorong perluasan akses keuangan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Portofolio pembiayaan inklusif ini tidak hanya berhenti pada penyaluran dana, melainkan mencakup pendampingan ekosistem agar pelaku usaha mampu naik kelas.
Sejalan dengan tema ekonomi hijau yang diusung Bank Indonesia, BSI juga mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan yang signifikan. Hingga Juni 2026, nilainya mencapai lebih dari Rp75 triliun.
Portofolio tersebut terdiri dari dua komponen utama:
Direktur Human Capital & Compliance BSI, Arief Adhi Sanjaya, menekankan bahwa dukungan perseroan terhadap UMKM bukan sekadar soal pembiayaan. Menurutnya, sektor ini mempekerjakan 114,7 juta orang dan berkontribusi lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.
"Sebagai bank syariah terbesar, BSI hadir memberikan solusi finansial, sosial, dan spiritual untuk mendampingi UMKM agar bisa naik kelas, bankable, hingga mampu menembus pasar global," ujar Arief dalam keterangan resminya, dikutip Selasa (4/2).
Partisipasi BSI dalam gelaran KKI 2026 menjadi salah satu wadah untuk memperkuat sinergi dengan regulator dan pelaku industri. Melalui forum tersebut, perseroan menyampaikan komitmennya dalam membangun ekosistem pembiayaan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan struktur permodalan yang solid dan fokus pada sektor produktif, BSI optimistis dapat terus memperbesar pangsa pasar pembiayaan UMKM. Langkah ini dinilai sejalan dengan target pemerintah dalam mendorong inklusi keuangan nasional serta transisi menuju ekonomi hijau.
Bagi pelaku UMKM, perluasan akses pembiayaan ini membuka peluang lebih besar untuk mendapatkan modal kerja dengan prinsip syariah. Adapun bagi investor, pertumbuhan portofolio berkelanjutan BSI menjadi indikator positif atas kualitas aset dan manajemen risiko perseroan dalam jangka panjang.