Enam Jam di IKN: Kawasan Inti Pemerintahan yang Estetik, Namun Masih Menyisakan Pekerjaan Rumah

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 13:41:31 WIB
Pengunjung melintasi kawasan inti pemerintahan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang dipadukan dengan elemen hutan dalam konsep Smart Forest City.

KALIMANTAN TENGAH — Perjalanan menuju IKN dari Balikpapan, yang berjarak sekitar 50 hingga 82,6 kilometer, adalah sebuah kontras yang langsung terasa. Sepanjang rute, pengunjung disuguhi hamparan hutan Kalimantan yang lebat, bahkan di kilometer 38, monyet-monyet terlihat turun ke pinggir jalan. Namun, di ujung perjalanan, pemandangan itu berubah total menjadi kluster gedung modern yang oleh seorang saksi mata diibaratkan seperti "menemukan Singapura di tengah hutan".

Konsep Smart Forest City yang Mulai Terlihat

Kesan pertama yang dominan dari KIPP IKN adalah kebersihan, kerapian, dan konsep arsitektur yang menyatu dengan alam. Meski kerap diberitakan mangkrak, pengamatan selama enam jam menunjukkan bahwa proyek ini masih berjalan. Beberapa bangunan memang belum rampung, tetapi konstruksi aktif terlihat di sejumlah titik.

Konsep Smart Forest City yang diusung tampak nyata dari banyaknya pepohonan yang menjadi elemen utama lanskap, bukan sekadar pemanis. Perpaduan ini menciptakan estetika visual yang kuat dan berbeda dari pusat pemerintahan mana pun di Indonesia.

Rest Area: Gerbang Masuk yang Belum Siap Menyambut

Namun, sebelum menikmati kemegahan KIPP, setiap pengunjung harus transit di rest area yang menjadi titik kumpul. Di sinilah masalah mulai terlihat. Pada kunjungan akhir pekan, banyak kios kuliner yang tutup, menyisakan sedikit pilihan bagi pengunjung. Aroma kurang sedap dan suasana yang terkesan tidak terurus menjadi kesan pertama yang kontras dengan kemegahan kawasan inti.

Petugas dengan rompi IKN yang berjaga di dekat pintu informasi juga belum mampu memberikan penjelasan interaktif mengenai kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aspek sumber daya manusia dan pelayanan publik masih menjadi pekerjaan rumah besar yang belum terselesaikan.

Fasilitas Publik yang Masih Setengah Hati

Estetika tinggi memang menjadi nilai jual utama IKN. Plaza Timur dan bangunan-bangunan di sekitarnya dirancang dengan detail yang instagramable. Namun, perhatian terhadap kebutuhan dasar pengunjung justru terabaikan. Sebuah musala di dekat Plaza Timur, misalnya, dilengkapi pendingin udara yang berfungsi, tetapi remote-nya tidak memiliki baterai.

Kondisi ini memaksa pengunjung untuk beribadah dalam keadaan gerah di tengah cuaca panas Kalimantan. Pengalaman kecil ini merepresentasikan ironi besar: pembangunan fisik yang megah tidak diimbangi dengan kesiapan operasional dan perawatan fasilitas publik.

Wisata IKN dan Kesiapan Menyambut Publik

Terlepas dari kekurangan tersebut, IKN telah menjadi tujuan wisata baru bagi warga sekitar. Pengunjung dari Balikpapan, Samarinda, dan Kutai Kartanegara berbondong-bondong datang untuk melihat langsung pusat pemerintahan masa depan. Tiket bus dari Terminal Batu Ampar Balikpapan menuju rest area IKN dibanderol sekitar Rp43.000.

Antusiasme publik ini menjadi modal berharga, namun juga sebuah ujian. Jika fasilitas pendukung seperti rest area dan transportasi internal tidak segera dibenahi, kesan pertama yang tertanam di benak pengunjung justru akan menjadi citra negatif yang sulit dihapus. IKN mungkin berhasil membangun beton dan gedung, tetapi membangun layanan publik yang andal adalah tantangan yang sama besarnya.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: mojok.co This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top