SAMPIT — Kobaran api melahap lahan kosong di Desa Kota Besi Hulu, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Jumat (28/8/2026) siang. Titik api pertama kali dilaporkan Kapolsek Kota Besi ke Pos Sektor Kota Besi pada pukul 13.25 WIB, langsung ditindaklanjuti dengan pengerahan armada pemadam.
Tim yang tiba di lokasi beberapa menit kemudian mendapati api telah merambat cepat di lahan kering sisi jalan. Cuaca cerah yang menyertai kejadian turut mempercepat penyebaran kobaran, memaksa petugas bekerja ekstra untuk mencegah api mendekati area sekolah dan permukiman warga.
Lima Jam Pemadaman, Titik Api Sembunyi di Bawah Tanah
Operasi pemadaman berlangsung alot. Kepala Pos Sektor Kota Besi, Benny, bersama dua personel lainnya harus berjibaku selama hampir lima jam untuk menjinakkan api yang terus memunculkan titik-titik baru di permukaan lahan.
"Petugas akhirnya berhasil mengendalikan dan memadamkan api sekitar pukul 18.32 WIB," kata Benny dalam laporannya, Jumat malam.
Dugaan sementara, api masih membakar lapisan gambut di bawah permukaan sehingga proses pendinginan memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Setelah kondisi dinyatakan aman, tim kembali ke pos dan mengisi ulang tangki kendaraan di sungai samping Kantor Kecamatan Kota Besi.
Kerugian Materi Nihil, Penyebab Masih Diselidiki
Berdasarkan pendataan petugas, luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 1.500 meter persegi atau setara ukuran 50 x 30 meter. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka dalam insiden ini, dan kerugian materiil dilaporkan nihil.
Hingga saat ini, penyebab pasti kebakaran masih belum diketahui dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut dari pihak berwenang.
Imbauan Damkar: Jangan Buka Lahan dengan Cara Dibakar
Menyikapi kejadian ini, petugas mengingatkan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan metode membakar, terlebih di musim kemarau. Praktik tersebut berisiko memicu kebakaran besar yang sulit dikendalikan.
Warga juga diminta segera melaporkan jika menemukan titik api di sekitar lingkungan tempat tinggal. Penanganan yang cepat dinilai krusial untuk mencegah kobaran meluas ke pemukiman atau lahan produktif.