KALIMANTAN TENGAH — Berbeda dari suguhan fiksi ilmiah kebanyakan, My Notes on Mars mencoba menelusuri sisi gelap kesedihan, ketidakharmonisan rumah tangga, dan obsesi manusia terhadap hal-hal yang tidak lazim. Karya ini juga menandai film berbahasa Inggris pertama Horvat, yang sebelumnya dikenal lewat Preparations to Be Together for an Unknown Period of Time.
Sinopsis: Hilang di Pegunungan, Muncul dengan Identitas Baru
Kisah berdurasi 106 menit ini berpusat pada Margot Fogal (Mackenzie Davis), seorang akademisi ilmu planet yang cemerlang, dan suaminya, Sam (Rupert Friend). Pasangan asal Amerika Utara itu memilih tinggal di Hungaria agar Sam dapat menekuni hobinya berternak kuda.
Masalah dimulai saat Margot tersesat dan dinyatakan tewas setelah jatuh dari tebing saat pendakian di Pegunungan Alpen Austria. Namun, wanita yang kemudian muncul kembali tidak sepenuhnya sama. Ia mengalami amnesia dan keliru menganggap Alex, seorang astronom muda yang pernah ditemuinya di Budapest, sebagai kekasihnya.
Meski ingatannya tentang masa lalu samar, Margot masih mampu memecahkan soal matematika rumit dengan cepat. Kejanggalan ini membuat Sam dan penonton bertanya-tanya: apakah wanita ini benar-benar Margot yang hilang, atau sekadar pengganti?
Bukan Sekadar Kisah Amnesia Biasa
Horvat sengaja membangun misteri secara perlahan. Ia bermain-main dengan simbol-simbol ilmiah yang rumit, termasuk pemikiran Margot tentang kemungkinan kehidupan di Mars yang ia tulis di buku catatan. Sebagai penasihat ilmiah, film ini melibatkan sarjana MIT, Gaia Stucky de Quay, untuk memastikan detail visual dan persamaan matematisnya terlihat autentik dan masuk akal.
Alih-alih sekadar drama kehilangan ingatan, film ini justru menawarkan teka-teki psikologis yang mengingatkan pada film-film seperti Solaris atau segmen dalam Kinds of Kindness. Penonton diajak berpikir tentang hakikat kemanusiaan dan bagaimana kita mendefinisikan cinta ketika sosok yang kita cintai berubah menjadi sesuatu yang asing.
Sutradara Kembali Garap Tema Trauma dan Ketidakpastian
Lewat karya ini, Lili Horvat kembali mengeksplorasi tema-tema yang pernah ia angkat sebelumnya: persimpangan antara neurologi, ketidaknyamanan psikologis, dan hal-hal yang tidak dapat dijelaskan secara logika. Ia juga menyoroti dinamika pasangan yang harus menghadapi kenyataan bahwa orang yang mereka sayangi mungkin tidak akan pernah sama lagi setelah mengalami peristiwa traumatis.
Para penggemar film festival di Indonesia yang penasaran dengan karya terbaru Horvat masih harus bersabar menunggu kepastian jadwal rilis di bioskop lokal maupun platform streaming. Namun, antusiasme kritikus internasional yang menyaksikan pemutaran perdana di Venesia memberikan sinyal positif bahwa film ini bakal menjadi salah satu perbincangan hangat di kalangan penggemar sinema arthouse.