PULANG PISAU — Kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah, tercatat 387,46 hektare hingga 29 Agustus 2026 pukul 20.00 WIB. Wilayah terdampak kini meluas ke kawasan Rei 2 di Kota Pulang Pisau, di mana sejumlah tanaman padi milik warga ikut hangus.
Tim gabungan yang melibatkan TNI, Polri, BPBD, serta Manggala Agni dikerahkan ke titik api di sekitar kawasan perkotaan tersebut. Pelaksana Tugas Kepala Pelaksana BPBD Pulang Pisau Osa Maliki mengatakan Rei 2 menjadi fokus penanganan karena banyak lahan persawahan di sekitarnya.
"Tim terpadu ada bantuan dari TNI, Polri yang membackup. Fokusnya terutama di wilayah R2. Karena kawasan kota ini kawasan yang harus mendapat perhatian karena banyak persawahan, sehingga upaya tim kita maksimalkan untuk penanganannya," ujar Osa.
Kecamatan Jabiren Raya Jadi Wilayah Terdampak Terluas
Berdasarkan data Posko Siaga Karhutla 2026, total luas lahan terbakar di Pulang Pisau mencapai 387,46 hektare. Kecamatan Jabiren Raya mencatat luasan karhutla terbesar, yakni 291,79 hektare, sementara sejumlah kecamatan lain ikut terdampak dengan skala lebih kecil.
Pemerintah daerah mengerahkan 344 personel serta 107 unit sarana dan prasarana dalam penanganan kebakaran. Kolaborasi dilakukan bersama TNI, Polri, Manggala Agni, perangkat kecamatan, dunia usaha, hingga masyarakat setempat.
Kualitas Udara Tidak Sehat, ISPU PM2,5 di Angka 109
Selain mengancam lahan pertanian, karhutla juga membawa dampak pada kualitas udara. Data posko mencatat Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) untuk partikel PM2,5 berada di angka 109, termasuk kategori tidak sehat.
Kondisi ini berisiko bagi warga yang beraktivitas di luar ruangan, terutama anak-anak dan lansia. Osa menegaskan pencegahan menjadi langkah utama untuk memutus sumber api di tengah kondisi lahan yang rentan terbakar.
Warga Diminta Tidak Membakar Lahan atau Sampah
Osa mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran terbuka, baik untuk membersihkan lahan maupun membakar sampah. Menurutnya, api yang awalnya dianggap kecil dapat meluas dengan cepat saat lahan kering dan angin bertiup kencang.
"Minimal jangan bakar lagi. Kalau memang mau melakukan kegiatan, jangan dengan cara membakar. Sumber api utamanya kan dari kebakaran. Dengan situasi dan kondisi saat ini, lebih baik jangan ada yang membakar," tegasnya.
"Jangan sampai muncul api, baik membakar lahan maupun membakar sampah. Apalagi sampai membakar lahan," tambahnya.
Peran Masyarakat Kunci Cegah Karhutla
Pemerintah bersama tim gabungan terus melakukan pemadaman dan pemantauan di titik rawan agar api tidak semakin meluas. Osa menekankan keberhasilan pengendalian karhutla sangat bergantung pada kesadaran warga untuk tidak memicu munculnya api.
"Kalau tidak ada sumber api, kita bisa mencegah munculnya kebakaran. Jadi yang paling penting sekarang adalah jangan membakar," pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih berjibaku di lapangan untuk memastikan tidak ada titik api baru di Rei 2 dan sekitarnya. Warga diimbau segera melapor jika menemukan tanda-tanda munculnya asap atau api di lingkungan mereka.