SAMPIT — Komunitas pecinta burung kicau atau kicau mania di Kota Sampit kini waspada. Pasalnya, aksi pencurian yang marak terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam sepekan terakhir mulai menyasar kandang dan gantangan burung milik para penghobi.
Pelaku tidak mengambil kandang sembarangan. Berdasarkan laporan yang beredar di kalangan penghobi, burung yang raib adalah jenis burung kontes dengan suara gacor atau yang sudah memiliki prestasi di lomba. Nilai jualnya bisa mencapai jutaan rupiah per ekor.
Seorang kicau mania di kawasan Baamang, Sampit, mengaku kehilangan dua ekor burung kicau dalam satu pekan. "Langsung dibawa kabur, kandangnya dibuka paksa," ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi yang masuk ke Polsek Sampit atau Polres Kotawaringin Timur terkait kasus ini. Para korban lebih banyak melaporkan kejadian melalui grup WhatsApp komunitas dibandingkan ke kantor polisi.
Kapolres Kotim melalui Kasat Reskrim belum memberikan keterangan resmi. Namun, pihak kepolisian mengimbau masyarakat untuk segera melapor jika menemukan kejanggalan di lingkungan sekitar.
Modus pelaku terbilang sederhana. Mereka menyasar rumah yang sedang ditinggal penghuninya, terutama saat malam hari atau subuh. Gantangan yang berada di teras atau halaman belakang menjadi sasaran empuk karena minim pengawasan.
Kerugian yang diderita para kicau mania bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta per ekor, tergantung jenis dan kualitas burung. Beberapa jenis burung yang raib antara lain murai batu, kacer, dan cucak hijau yang biasa diikutsertakan dalam lomba bergengsi di Kotim dan sekitarnya.
Ketua salah satu komunitas kicau mania di Sampit mengimbau para anggota untuk lebih ketat menjaga burung peliharaan. "Jangan gantung di luar rumah saat malam. Kalau bisa, bawa masuk kandang ke dalam rumah atau kunci gantangan dengan gembok tambahan," katanya.
Para penghobi juga diminta segera melapor ke polisi jika menemukan aktivitas mencurigakan di sekitar pemukiman. Informasi dari warga sangat membantu aparat dalam mengungkap jaringan pencuri yang belakangan meresahkan warga Kotim.