PULANG PISAU — Rombongan DPW Tameng Adat Borneo Kalimantan Tengah dan Sanggar Kambang Barenteng Al Firdaus tiba di lokasi ritual Tiwah di Pulang Pisau pada Jumat sore. Mereka disambut langsung oleh para basir, pemimpin ritual keagamaan setempat, dalam suasana kekeluargaan yang kental.
Kunjungan ini dinilai tepat waktu karena bertepatan dengan prosesi Mapendeng Sapundu, yaitu pendirian enam tiang kayu berukir yang berfungsi sebagai tempat mengikat hewan kurban. Ritual Tiwah sendiri merupakan kewajiban sakral bagi umat Hindu Kaharingan untuk mengantarkan arwah leluhur menuju Lewu Tatau, alam kedamaian atau surga.
Makna Kehadiran Tameng Adat di Tengah Ritual Sakral
Sairullah menyampaikan bahwa kehadiran Tameng Adat Borneo merupakan bentuk penghormatan terhadap sakralitas ritual Tiwah. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
"Adat dan tradisi adalah identitas serta akar pemersatu kita di Kalimantan Tengah. Kehadiran Tameng Adat Borneo di sini adalah bentuk penghormatan tertinggi kami terhadap sakralitas ritual Tiwah. Melalui momentum ini, mari kita terus merawat toleransi dan memperkokoh pondasi Falsafah Huma Betang, di mana perbedaan keyakinan justru menjadi kekuatan yang memperkaya kebersamaan kita," tutur Sairullah.
Enam Sapundu dan Esensi Ritual Tiwah
Basir Obing, pemimpin ritual Hindu Kaharingan, memberikan penjelasan mendalam mengenai rangkaian acara yang berlangsung. Ia menegaskan bahwa Ritual Tiwah bukan sekadar seremoni, melainkan kewajiban spiritual yang sarat nilai-nilai luhur.
Berikut fakta singkat terkait ritual Tiwah yang berlangsung di Pulang Pisau:
- Status ritual: Merupakan ritual suci kematian tingkat akhir bagi umat Hindu Kaharingan.
- Tujuan utama: Mengantarkan arwah (Liau) leluhur atau keluarga yang telah meninggal menuju Lewu Tatau, alam kedamaian atau surga.
- Simbolisme Sapundu: Enam tiang kayu berukir yang didirikan berfungsi sebagai tempat sakral untuk mengikat hewan kurban.
Peran DPW Tameng Adat Borneo sebagai Pengayom Spiritual
Melalui kunjungan ini, DPW Tameng Adat Borneo Kalimantan Tengah di bawah kepemimpinan Sairullah kembali menegaskan posisinya. Organisasi ini tidak hanya berperan sebagai pelindung adat secara fisik, tetapi juga sebagai pengayom spiritual yang menjaga kedamaian, harmoni, serta toleransi antarumat beragama di Kalimantan Tengah.
Pembina Sanggar Kambang Barenteng Al Firdaus, Wahidah, turut hadir mendampingi rombongan. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan dan toleransi yang menjadi ciri khas masyarakat Kalimantan Tengah yang menjunjung tinggi Falsafah Huma Betang.