E Ink, perusahaan di balik layar e-ink yang menjadi tulang punggung Kindle, Kobo, dan merek e-reader lainnya, resmi menggandeng MediaTek. Kemitraan ini bertujuan membenamkan kemampuan AI ke dalam chip yang akan digunakan pada perangkat e-reader masa depan, sebagaimana dilaporkan Android Authority. Namun, pengumuman ini langsung menuai skeptisisme dari komunitas pengguna setia e-reader.
Bagi sebagian besar pengguna, daya tarik utama e-reader justru pada kesederhanaannya. Perangkat ini dirancang untuk meniru sensasi membaca buku fisik—tanpa notifikasi, tanpa distraksi, dan dengan daya tahan baterai hingga berminggu-minggu.
Menambahkan fitur AI seperti ringkasan buku otomatis, rekomendasi bacaan berbasis algoritma, atau bahkan asisten suara, dinilai akan menggerogoti esensi tersebut. Kekhawatiran terbesar adalah bahwa lapisan perangkat lunak tambahan ini akan membebani prosesor dan memperlambat respons layar e-ink yang sudah terkenal lambat dalam menyegarkan halaman.
MediaTek dikenal sebagai pemasok chip untuk perangkat entry-level hingga mid-range. Kolaborasi ini kemungkinan akan menghasilkan sistem-on-chip (SoC) khusus yang mengintegrasikan unit pemroses neural (NPU) untuk menangani tugas AI. Masalahnya, e-reader tidak didesain untuk komputasi berat. Baterai yang selama ini bisa bertahan berminggu-minggu bisa menyusut drastis jika chip harus terus-menerus aktif menjalankan algoritma AI.
Belum lagi soal harga. Penambahan chipset yang lebih canggih dan fitur AI pasti akan mendongkrak biaya produksi. Di pasar Indonesia, di mana e-reader masih dianggap barang premium, kenaikan harga bisa menjadi penghalang adopsi yang lebih luas.
Langkah ini mengingatkan pada tren serupa di industri ponsel pintar, di mana fitur AI kerap ditambahkan hanya sebagai gimmick pemasaran. Bedanya, ponsel memang dirancang sebagai perangkat serba guna. E-reader, sebaliknya, adalah perangkat spesifik dengan satu fungsi utama: membaca.
Jika E Ink dan MediaTek nekat melaju, risiko terbesarnya adalah kehilangan basis pengguna inti yang justru mencari perangkat tanpa gangguan. Amazon dan Rakuten Kobo, yang selama ini menjadi pelanggan utama E Ink, mungkin akan berpikir dua kali sebelum mengadopsi teknologi ini jika hasil pengujian menunjukkan penurunan performa yang signifikan.
Belum ada jadwal pasti kapan perangkat e-reader dengan chip AI MediaTek ini akan meluncur. Namun, para pengamat industri menyarankan agar kedua perusahaan tidak terburu-buru. Lebih baik merilis produk yang matang dan benar-benar fungsional daripada memaksakan fitur yang justru merusak pengalaman membaca.