KALIMANTAN TENGAH — Pembahasan utama dalam pertemuan itu adalah rencana operasional Sekolah Rakyat, termasuk penyekolahan 1.000 anak kurang mampu, anak tidak bersekolah, dan anak jalanan di Jakarta melalui 10 sekolah yang sudah ditinjau pada bulan lalu. Teddy menyebut program ini merupakan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk memberikan akses pendidikan, penginapan, kesehatan, dan kehidupan layak secara merata.
Dalam keterangan yang diunggah di akun Instagram Sekretariat Kabinet, Minggu (31/5/2026), Teddy menjelaskan program ini menyasar tiga kategori utama: anak dari keluarga tidak mampu, anak putus sekolah, dan anak yang belum pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali. "Program ini ditargetkan mampu memberikan akses pendidikan, penginapan, kesehatan dan kehidupan layak kepada lebih dari 45 ribu anak," ujar Teddy.
Presiden Prabowo, kata Teddy, menginginkan seluruh anak Indonesia tanpa terkecuali memiliki kesempatan pendidikan yang sama dengan fasilitas yang layak dan nyaman. "Memberi kesempatan dan bekal setiap anak untuk meraih masa depan yang lebih baik dan lebih sejahtera," kata dia menirukan arahan presiden.
Seskab Teddy baru saja mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan resmi kenegaraan ke Paris, Prancis pada 26 hingga 29 Mei 2026. Kunjungan itu menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis, termasuk peluncuran France–Indonesia High Level Business Council yang mempertemukan pimpinan dunia usaha kedua negara.
Empat kesepakatan komersial baru diteken dengan nilai total mencapai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 61,25 triliun (kurs Rp 17.500 per dolar AS). Kesepakatan itu difokuskan pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan yang diharapkan memperluas peluang kolaborasi ekonomi bilateral.
Rapat yang digelar sehari setelah Teddy tiba di Tanah Air menunjukkan bahwa isu pendidikan menjadi prioritas yang langsung ditindaklanjuti. Pemerintah berencana membuka Sekolah Rakyat pada tahun ajaran baru Juli 2026 sebagai bagian dari upaya menekan angka anak tidak sekolah dan kemiskinan ekstrem.
Dengan target awal 1.000 anak di Jakarta melalui 10 sekolah, program ini akan menjadi model yang kemudian diperluas ke daerah lain. Belum ada rincian lebih lanjut mengenai lokasi sekolah, kurikulum, maupun skema pendanaan operasional yang akan digunakan.