Pencarian

BMKG Ungkap Alasan Kotim Sangat Rawan Karhutla: Bukan Hanya Permukaan, Lapisan Tanah 10 Cm ke Bawah Ikut Terbakar

Rabu, 26 Agustus 2026 • 14:30:03 WIB
BMKG Ungkap Alasan Kotim Sangat Rawan Karhutla: Bukan Hanya Permukaan, Lapisan Tanah 10 Cm ke Bawah Ikut Terbakar
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menunjukkan data tingkat kekeringan bahan bakar di wilayah Kotim.

SAMPIT — Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) memasuki fase kritis. Kepala BMKG Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menyebut tingkat kekeringan bahan bakar di permukaan sudah berada pada kategori sangat mudah terbakar sejak 24 Agustus lalu.

Indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) menunjukkan lapisan permukaan sedalam 1-2 sentimeter dalam kondisi sangat kering. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya suplai hujan yang memadai dalam beberapa hari terakhir.

Lapisan Tanah Bawah Ikut Mengering

"Dari FFMC, indikator bahwa di lapisan permukaan atau di lapisan 1-2 centimeter itu mudah terbakar. Jadi dari tanggal 24 sampai tanggal 30 itu sangat tinggi potensi sangat mudah terbakar," kata Mulyono, Rabu (26/8/2026).

Tingkat kemudahan terbakar juga meningkat pada kedalaman 2-5 sentimeter. Menurut Mulyono, jika api sudah mencapai lapisan ini, penjalaran akan lebih cepat karena bahan bakar gambut dalam kondisi kering.

"Potensi di lapisan 2 sampai 5 centimeter semakin tinggi untuk terbakar, apalagi sudah merambat. Posisi merambat dia akan menyebar lebih cepat," jelasnya.

Wilayah Selatan Kotim Paling Berisiko

Kondisi paling parah terpantau di bagian selatan Kotim. Pada kedalaman 10 sentimeter ke bawah, tingkat kekeringan tanah sudah sangat tinggi dan berpotensi memicu kebakaran bawah tanah yang sulit dipadamkan.

"Di bagian selatan Kotim itu potensinya sangat tinggi karena sudah semakin kering. Dan juga kita sudah tidak menerima hujan dalam beberapa hari terakhir," ujarnya.

Api di Permukaan Padam Bukan Jaminan

Mulyono menegaskan karhutla di lahan gambut membutuhkan penanganan ekstra dibandingkan kebakaran di lahan mineral. Pasokan air dalam jumlah besar diperlukan untuk memadamkan api hingga ke lapisan tanah paling dalam.

Ia mengingatkan bahwa api yang terlihat padam di permukaan bukan jaminan kebakaran telah berhenti. Api bisa terus membara di lapisan bawah tanah dan sewaktu-waktu muncul kembali ke permukaan.

Kondisi cuaca kering ini diperkirakan masih bertahan hingga 30 Agustus 2026. Masyarakat dan instansi terkait diminta meningkatkan kewaspadaan serta tidak membuka lahan dengan cara membakar selama periode rawan ini.

Follow kabarpalangkaraya.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: tintaborneo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks