KALIMANTAN TENGAH — Proyek percontohan yang berlokasi di fasilitas Banas Suzuki Bio-CNG, Gujarat, ini beroperasi penuh dengan pasokan dari peternak di 16 desa sekitar. Setiap kilogram CNG yang dihasilkan dijual seharga 80 rupee (sekitar Rp 15.000), atau lebih dari 20 rupee lebih murah dibandingkan harga bensin di beberapa wilayah India. Bahan bakar ini sudah digunakan oleh 600 hingga 700 kendaraan setiap hari, mulai dari mobil penumpang hingga auto-rickshaw.
Dari Limbah Ternak ke Bahan Bakar dan Pupuk Organik
Peternak yang tergabung dalam koperasi Banas Dairy, salah satu koperasi susu terbesar di Asia, menyetor kotoran sapi dengan imbalan satu rupee per kilogram. Setelah diproses, residu dari fermentasi tidak dibuang, melainkan diolah menjadi pupuk organik yang dikembalikan ke lahan pertanian setempat. Suzuki melihat model ini bukan sekadar proyek lingkungan, melainkan upaya membangun ekosistem energi dari hulu ke hilir.
Strategi Energi di Tengah Konflik Timur Tengah
India mempercepat diversifikasi energi setelah gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Awal bulan ini, Jepang dan India menandatangani rencana strategis yang mencakup pembangunan 1.000 pabrik biogas baru. Pemerintah India juga tengah mempertimbangkan kenaikan insentif bagi produsen biogas untuk menarik lebih banyak investasi. Saat ini, produksi biogas nasional masih sangat kecil dibandingkan total permintaan energi.
Tantangan Skala Besar dan Investasi Miliaran Dolar
Membangun 1.000 pabrik bukan perkara mudah. Dibutuhkan jaringan pengumpulan limbah, pabrik pengolahan, dan infrastruktur distribusi yang memerlukan investasi miliaran dolar. Suzuki, seperti halnya Tesla yang membangun jaringan Supercharger, memilih untuk tidak menunggu pemasok bahan bakar, melainkan membangun sendiri rantai pasok CNG. Jika India mampu menyelesaikan tantangan logistik ini, kotoran sapi—salah satu produk sampingan pertanian paling melimpah—bisa menjadi tulang punggung transportasi masa depan.