PALANGKA RAYA — General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, menyatakan capaian ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menghadirkan pemerataan akses energi hingga ke pelosok. Dari total desa yang telah berlistrik, kontribusi Kalimantan Selatan tercatat jauh lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah.
Di Kalimantan Selatan, rasio desa berlistrik telah mencapai 99,45 persen. Sementara di Kalimantan Tengah, angkanya baru berada di 85,11 persen. Perbedaan ini disebabkan oleh karakteristik wilayah di Kalteng yang lebih beragam dan tersebar, sehingga membutuhkan pendekatan khusus dalam pembangunan infrastruktur kelistrikan.
Mengapa Rasio di Kalteng Lebih Rendah?
Iwan menjelaskan bahwa keragaman geografis di Kalimantan Tengah menjadi tantangan tersendiri. Wilayah yang luas dengan banyak daerah terpencil dan akses sulit memaksa PLN untuk menghadirkan berbagai pendekatan teknis agar listrik bisa sampai ke desa-desa yang belum terjangkau.
"Karakteristik wilayah yang beragam mendorong PLN terus menghadirkan berbagai pendekatan agar semakin banyak desa dapat menikmati akses listrik," kata Iwan dalam pernyataan yang diterima di Palangka Raya, Rabu.
Listrik Bukan Sekadar Penerangan
Menurut Iwan, kehadiran listrik di setiap desa menjadi fondasi penting dalam mendukung pembangunan daerah dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Ia menekankan bahwa akses listrik membuka peluang di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi.
"Listrik bukan hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk belajar, berusaha, memperoleh layanan kesehatan yang lebih baik, serta mengembangkan potensi ekonomi di daerahnya," ujar Iwan.
Ia menambahkan, setiap desa yang berhasil dialiri listrik merupakan langkah nyata dalam mendorong pemerataan pembangunan. Masyarakat dapat menjalankan aktivitas lebih produktif dan membuka peluang baru yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan.
Program ABT Kementerian ESDM Jadi Andalan
PLN UID Kalselteng terus memperluas jangkauan listrik ke desa-desa yang belum teraliri melalui pembangunan infrastruktur kelistrikan. Salah satu pendorong utama percepatan ini adalah Program Anggaran Belanja Tambahan (ABT) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
"Melalui dukungan Program ABT Kementerian ESDM, kami optimistis semakin banyak desa dapat segera menikmati listrik PLN," tegas Iwan. Ia menambahkan, sinergi dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat agar manfaat listrik dapat dirasakan lebih luas, sekaligus menjadi penggerak pembangunan dan kesejahteraan masyarakat hingga ke pelosok.