SAMPIT — Simulasi pemadaman karhutla di Kotawaringin Timur tidak berjalan seperti gladi biasa. Dari tiga lokasi kebakaran yang diasumsikan terjadi serentak, dua di antaranya merupakan kejutan bagi petugas yang baru saja mengikuti Apel Siaga Bencana Karhutla dan Kekeringan di lapangan parkir Stadion 29 Nopember.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan metode ini sengaja dipilih agar evaluasi kesiapan personel dan peralatan lebih mendekati kondisi darurat sesungguhnya. “Makanya tadi ada gladi yang skenario dan ada gladi non skenario, yang tidak diketahui oleh para peserta upacara,” ujarnya.
Dua Titik Kejutan di Balik Stadion dan Puskesmas
Selain titik utama di area parkir stadion, dua lokasi lain yang dijadikan sasaran simulasi berada di belakang Gedung Voli Indoor dan sekitar Puskesmas Baamang 2. Seluruh petugas gabungan dari BPBD, Damkar, TNI, Polri, Manggala Agni, PMI, dan relawan dituntut bergerak cepat tanpa persiapan sebelumnya.
Multazam menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan. “Hari ini adalah momentum, tapi sebenarnya ini adalah kegiatan untuk kita bisa melihat kesiapsiagaan sebenarnya,” kata dia.
Response Time Posko ke Lokasi Baru Lima Menit
Dari pengamatan langsung selama simulasi, Multazam mengakui ketangkasan personel masih perlu perbaikan. Ia memberi angka tiga dari skala satu sampai lima untuk kecepatan respons petugas. “Kalau dari angka 1 sampai 5, masih di angka 3, belum optimal. Tapi itu nanti menjadi tugas kami untuk diperbaiki,” tegasnya.
Meski begitu, ia memastikan dalam penanganan harian, standar waktu yang berlaku di BPBD Kotim terbilang ketat. “Response time dari posko sampai persiapan keberangkatan paling lama lima menit sudah siap berangkat,” terangnya.
Eskalasi Karhutla Mulai Meningkat
Pemilihan waktu simulasi, menurut Multazam, juga disesuaikan dengan kondisi terkini di lapangan. “Kenapa kami lakukan pada hari ini? Selain memang ketersediaan waktu, yang kedua adalah eskalasi karhutla sudah mulai meningkat,” ungkapnya.
Simulasi ini melibatkan personel dari berbagai instansi yang sebelumnya mengikuti apel siaga. Dengan skenario kebakaran simultan di tiga titik, BPBD ingin menguji koordinasi lintas sektor dan kelayakan peralatan saat tekanan waktu tinggi. Hasil evaluasi akan menjadi dasar perbaikan prosedur sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.