BUNTTOK — Badan Penanggulangan Bencana Daerah Barito Selatan mencatat lonjakan titik panas yang signifikan dalam dua bulan terakhir. Pada Agustus tercatat 2.398 titik panas, lalu naik menjadi 4.965 titik pada September.
Kepala BPBD Barsel Agus In'Yulius menyebut angka itu menunjukkan karhutla masih sulit dikendalikan. "Kemarin angka hotspot sempat turun hingga empat titik, namun hari ini kembali naik menjadi 700 titik lebih," kata Agus saat jumpa pers di Buntok.
Karhutla berdampak pada kesehatan masyarakat, kelestarian hutan, dan kualitas lingkungan. Kabut asap akibat kebakaran lahan disebut telah menimbulkan korban jiwa, seorang bayi dan seorang ASN, pada Oktober ini.
Peningkatan titik panas turut memperburuk kualitas udara di wilayah setempat. Kondisi itu berpotensi mengganggu kesehatan warga yang tinggal di sekitar area kebakaran.
Agus menyatakan kebakaran lahan kerap dipicu aktivitas manusia yang membakar lahan, baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diimbau berperan aktif mencegah karhutla.
Penanganan di lapangan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur TNI, Polri, dan masyarakat. Petugas bersama warga turun langsung untuk memadamkan api.
Agus berharap kondisi segera membaik dan mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah serta pemerintah pusat. "Kita berharap hujan segera turun dan masyarakat semakin peduli menjaga lingkungan, agar tidak terjadi karhutla," ujarnya.
Hingga kini, penanganan karhutla di Barito Selatan masih bergantung pada kesadaran bersama warga dan cuaca. Tanpa hujan, upaya pemadaman dinilai bakal terus berlangsung di tengah lonjakan titik panas yang fluktuatif.