Laboratorium Pemerintah AS Uji Keamanan Sensor Lidar Buatan China untuk Mobil Otonom

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:29:01 WIB
Sensor lidar buatan China tengah diuji keamanannya oleh laboratorium pemerintah Amerika Serikat untuk digunakan pada mobil otonom.

KALIMANTAN TENGAH — Sensor lidar, singkatan dari light detection and ranging, adalah teknologi yang memancarkan pulsa laser untuk mengukur jarak ke objek di sekitarnya. Sensor ini menjadi komponen kunci bagi pengembangan mobil otonom karena mampu menghasilkan gambaran beresolusi tinggi tentang lingkungan di sekitar kendaraan. Kini, teknologi tersebut tengah menjadi sorotan keamanan nasional di Amerika Serikat.

Idaho National Laboratory (INL) tengah meninjau apakah sensor lidar buatan China berpotensi menjadi celah keamanan jika digunakan secara luas pada kendaraan di Amerika. Dua narasumber yang mengetahui upaya ini mengungkapkan bahwa pendanaan riset berasal dari satu atau sekelompok perusahaan di industri kendaraan listrik dan otonom. Identitas pendana belum dapat dipastikan hingga saat ini.

Perusahaan Otomotif AS Klaim Tak Tahu Menahu

Sejumlah perusahaan otomotif dan otonom yang dilaporkan mempertimbangkan penggunaan lidar China menyatakan tidak mengetahui tinjauan ini. Perwakilan Rivian, General Motors, Ford, Kodiak, Lucid Motors, Nuro, dan Uber mengaku tidak sadar akan adanya pengujian tersebut. Sementara itu, Nvidia, Zoox, dan Aurora tidak merespons pertanyaan soal keterlibatan mereka.

INL enggan berkomentar banyak mengenai proyek ini. Juru bicara laboratorium menyatakan pada Juni dan Juli bahwa proyek tersebut bukan hal yang bisa dibahas dengan wartawan. Pemasok lidar terbesar China, Hesai dan RoboSense, juga tidak menanggapi permintaan komentar berulang kali.

Dua Risiko Utama: Spionase dan Gangguan Massal

Omer Keilaf, CEO dan salah satu pendiri perusahaan lidar asal Israel, Innoviz, memetakan dua lapis risiko utama dari penggunaan lidar China. Risiko pertama adalah gangguan massal — sensor bisa dinonaktifkan serentak, mengganggu kendaraan yang sedang melaju dan melumpuhkan kendaraan yang parkir. Para peneliti sebelumnya sudah membuktikan sensor lidar individual bisa dilumpuhkan dengan laser.

Risiko kedua adalah kebocoran data. Lidar mengumpulkan data detail tentang lingkungan sekitarnya, dan data tersebut berpotensi dikompresi lalu dikirim melalui chip seluler. Keilaf, yang menghabiskan tujuh tahun di dinas intelijen Israel, menegaskan mengekstraksi informasi semacam ini tidak terlalu sulit bagi pihak yang berniat jahat.

“Sebagai orang yang menghabiskan tujuh tahun di pasukan intelijen Israel, saya bisa pastikan, tidak terlalu sulit untuk mengekstrak informasi itu. Pada akhirnya, jumlah data yang dihasilkan lidar cukup mudah dikompresi jika seseorang menginginkannya,” ujar Keilaf.

Kekhawatiran Politik dan Rancangan Undang-Undang

Tinjauan keamanan ini berjalan seiring meningkatnya tekanan untuk melarang penggunaan sensor lidar China di jalanan Amerika. Senator Tammy Baldwin dari Partai Demokrat, yang menggagas Securing Infrastructure from Adversaries Act bersama Senator Ted Budd dari Partai Republik, menyuarakan kekhawatiran utama tentang potensi spionase militer atau industri.

“Seiring infrastruktur menjadi semakin canggih, ancaman teknologi LiDAR China terhadap komunitas Amerika dan keamanan nasional kita tidak bisa dibiarkan tanpa pengawasan. Kita perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi warga Amerika, dan itu dimulai dengan memastikan uang pajak tidak digunakan untuk membeli teknologi yang bisa dipakai memata-matai kita,” kata Baldwin.

Anggota Kongres John Moolenaar dari Partai Republik, yang ikut mensponsori RUU berbeda untuk melarang penggunaan lidar China, mengkhawatirkan adanya “pintu belakang” yang bisa mengirim informasi kembali ke kepentingan Partai Komunis China.

Faktor Harga: Dari USD 75.000 Jadi Ratusan Dolar

Kekhawatiran ini menjadi relevan karena harga lidar turun drastis dalam dekade terakhir. Sensor lidar tradisional jauh lebih mahal dibanding radar atau kamera. Tesla bahkan menolak menggunakannya sama sekali — CEO Elon Musk menyebut lidar sebagai “tongkat penopang” dan memilih membangun sistem otonomi hanya dengan kamera.

Perusahaan China seperti Hesai dan RoboSense mengubah permainan dengan skala produksi besar dan biaya lebih rendah. Produk yang sedekade lalu dihargai USD 75.000 (sekitar Rp 1,2 miliar) kini bisa didapat hanya dengan beberapa ratus dolar. Produsen lidar Amerika kesulitan menyaingi skala ekonomi dan biaya tenaga kerja China yang lebih murah. Akibatnya, perusahaan lidar AS menghabiskan beberapa tahun terakhir untuk konsolidasi, atau dalam kasus Luminar, mengajukan kebangkrutan.

Hasil tinjauan INL akan menentukan apakah sensor lidar China mendapat sertifikasi bersih dari sisi keamanan siber. Keputusan ini berpotensi memengaruhi arah adopsi teknologi lidar di industri otomotif Amerika, sekaligus menjadi acuan regulator dalam menyusun kebijakan ke depan.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top