BMKG: Musim Kemarau di Kotawaringin Timur Berlangsung hingga Oktober, 17 Kecamatan Masuk Zona Merah Karhutla

Penulis: Lukman Hakim  •  Senin, 20 Juli 2026 | 13:26:31 WIB
Kepala Stasiun BMKG Bandara H Asan Sampit, Mulyono Leo Nardo, menyampaikan pernyataan pers terkait musim kemarau di Kotawaringin Timur.

Kepala Stasiun BMKG Bandara H Asan Sampit Mulyono Leo Nardo menjelaskan, perubahan jadwal puncak kemarau ini dipengaruhi oleh pergeseran awal musim kemarau itu sendiri. Kondisi kering diperkirakan telah dimulai sejak Juni dan akan bertahan hingga penghujung Oktober.

“Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak yang ditimbulkan,” kata Leonardo, Senin (20/7/2026).

Seluruh Wilayah Kotim Rawan Terbakar

BMKG menyatakan bahwa seluruh 17 kecamatan di Kotim kini berada dalam status zona merah karhutla. Kondisi ini dipicu oleh minimnya curah hujan sejak pertengahan Juni, ditambah cuaca panas dan kelembapan udara yang rendah.

Menurut Leonardo, kerawanan kebakaran awalnya terdeteksi di wilayah selatan sebelum akhirnya meluas ke seluruh kecamatan. “Dalam kondisi lahan yang telah lama tidak diguyur hujan, api akan lebih cepat membesar dan menyebar apabila terjadi kebakaran,” ungkapnya.

Peluang hujan dalam beberapa hari ke depan masih sangat kecil. Jika pun terjadi, sifatnya hanya lokal dengan intensitas ringan sehingga belum mampu menurunkan tingkat kerawanan karhutla secara signifikan.

Angin Bisa Bawa Asap ke Kota Sampit

BMKG juga mengingatkan bahwa arah angin yang saat ini dominan bertiup dari selatan hingga tenggara berpotensi membawa asap menuju Kota Sampit. “Kalau kebakaran hutan dan lahan banyak terjadi di daerah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit,” tambah Leonardo.

Hasil pemantauan BMKG menunjukkan kondisi atmosfer di sekitar stasiun masih relatif bersih dengan jarak pandang normal. Namun, pada malam hingga pagi hari mulai terindikasi penurunan jarak pandang karena kecepatan angin melemah, sehingga asap cenderung bertahan di suatu wilayah.

Saat siang hari, angin umumnya bertiup lebih kencang sehingga asap lebih mudah berpindah. Sebaliknya pada malam hari, angin menjadi lebih tenang dan asap lebih mudah terakumulasi, menyebabkan kabut asap terasa lebih pekat.

Nelayan Pesisir Diminta Waspadai Gelombang hingga 1,5 Meter

Selain potensi karhutla, BMKG juga mengingatkan masyarakat pesisir, khususnya nelayan pengguna perahu atau kapal berukuran kecil, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi gelombang di perairan selatan Kotim. Dominasi angin timuran diperkirakan menyebabkan tinggi gelombang bertahan pada kisaran 1 hingga 1,5 meter selama Juli hingga Oktober.

“Ini cukup berbahaya bagi kapal nelayan berukuran kecil sehingga kami menyarankan nelayan menunda aktivitas melaut apabila cuaca tidak mendukung,” tegas Leonardo. Sementara itu, kapal berukuran besar seperti kapal penumpang masih dinilai aman beroperasi karena ambang peringatan bagi kapal tersebut berada pada tinggi gelombang di atas dua meter.

Reporter: Lukman Hakim
Sumber: beritasampit.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top