KALIMANTAN TENGAH — Dari sekian banyak momen yang tercipta di Geopolitics World Cup (GWC) 2026, sepuluh nama berikut berhasil mencuri perhatian global dengan cara mereka masing-masing. Bukan sekadar statistik, melainkan cerita yang akan terus diingat penggemar sepak bola.
Kiper Cape Verde, Vozinha, menjadi fenomena tersendiri. Di usianya yang ke-40, ia baru saja menghabiskan musim lalu di kasta kedua Liga Portugal. Namun, di Piala Dunia, ia tampil gemilang dengan menjaga gawangnya tetap perawan saat menghadapi Spanyol di fase grup, membawa Cape Verde lolos tanpa terkalahkan.
Puncaknya, Vozinha memaksa Argentina bermain hingga babak perpanjangan waktu di babak 32 besar. Aksi-aksi heroiknya membuat seluruh dunia, termasuk ibunya sendiri, antre menjadi penggemar setianya.
Bek Tottenham Hotspur, Djed Spence, mengalami transformasi luar biasa. Di fase grup, ia menjadi sasaran amarah pelatih Thomas Tuchel. Namun, saat memasuki babak knockout, Spence berubah menjadi bek kanan kelas dunia dengan pelindung dagu khas (chin-strap).
Tekel sliding-nya terhadap Giuliano Simeone menjadi salah satu momen yang paling diingat penggemar Inggris. Spence membuktikan bahwa kritik bisa menjadi cambuk untuk bangkit.
Wasit asal El Salvador, Iván Barton, menjadi pusat perhatian saat ia mengusir gelandang Paraguay, Miguel Almirón, dari lapangan. Dengan nada membentak seperti seorang ibu yang memarahi anaknya, Barton berteriak, "Setelah ditinjau, nomor 10 Paraguay menutup mulutnya! Keputusannya kartu merah!"
Aksi tegas ini langsung menjadi viral di media sosial, membuktikan bahwa wasit pun bisa menjadi bintang di panggung Piala Dunia.
Gelandang Paraguay ini mungkin jarang bermain sepak bola, tetapi ia selalu terlibat dalam drama. Galarza dikenal gemar mengeluh, pura-pura cedera, dan memprovokasi lawan. Puncak aksinya terjadi saat ia mencetak gol ke gawang Turki dan kemudian mencuri jam tangan wasit untuk dipasang di pergelangan tangannya sendiri. Aksi usil yang timeless.
Lamine Yamal mungkin baru berusia 19 tahun, tetapi popularitasnya di turnamen ini kalah jauh dari adiknya yang berusia tiga tahun, Keyne. Ekspresi cemberut dan tawa cekikikan Keyne di tribun penonton berhasil mencuri hati penggemar Spanyol dan dunia. Di tengah hiruk-pikuk turnamen, kehadiran seorang balita menjadi hiburan yang menyegarkan.
Kiper veteran Curaçao, Eloy Room, mencatatkan namanya dalam buku sejarah. Setelah kebobolan tujuh gol dari Jerman, Room bangkit dengan penampilan heroik saat menahan imbang Ekuador 0-0. Ia melakukan 15 penyelamatan dalam satu pertandingan, sebuah rekor untuk laga Piala Dunia 90 menit. Hasil imbang ini menjadi poin pertama bagi pulau kecil Karibia itu di pentas dunia.
Pelatih Mesir, Hossam Hassan, dengan kaus hitamnya yang khas dan ekspresi marah permanen, menjadi sosok yang mengintimidasi. Bersama saudara kembarnya, Ibrahim Hassan, ia memimpin Mesir hingga babak 16 besar. Namun, momen paling ikonik adalah saat timnya unggul 2-0 atas Argentina sebelum kebobolan di 15 menit terakhir, membuat amarah Hossam mencapai puncaknya.
Bagaimana mungkin pencetak gol terbanyak Belgia dianggap sebagai pahlawan kultus? Jawabannya ada pada selebrasi khasnya. Usai membantai Amerika Serikat 4-1 dan mencetak gol ke-93 untuk negaranya, Lukaku merayakannya dengan tarian ala Donald Trump di dekat bendera sudut. Aksi ini terjadi setelah kontroversi Balogungate, menjadikan Big Rom sebagai simbol perlawanan yang lucu.