Pencarian

Inalum Kantongi Peringkat BBB- dari S&P, Naik ke Level Investment Grade

Sabtu, 12 September 2026 • 08:38:01 WIB
Inalum Kantongi Peringkat BBB- dari S&P, Naik ke Level Investment Grade
S&P menaikkan peringkat Inalum ke BBB- atau level investment grade.

KALIMANTAN TENGAHJakarta — Peringkat investment grade yang disandang Inalum tidak lepas dari posisinya di dalam Grup MIND ID. Dalam laporan yang diterbitkan 7 September 2026, S&P Global Ratings menyoroti dukungan pemerintah melalui holding BUMN pertambangan tersebut, sekaligus peran Inalum dalam hilirisasi bauksit dan pengembangan rantai nilai aluminium nasional.

Direktur Utama Inalum Melati Sarnita menyebut capaian ini sebagai pengakuan sekaligus momentum memperkuat fundamental bisnis.

"Investment grade ini merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi INALUM untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan. Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami akan memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya mengejar skala tetapi tetap dibangun di atas fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, dan tata kelola yang baik dan kuat," kata Melati dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Peringkat Domestik Ikut Naik

Pencapaian di kancah internasional melengkapi penguatan profil kredit Inalum di pasar domestik. Pada Agustus 2026, PEFINDO menaikkan peringkat Inalum satu tingkat dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable.

Sebelumnya, perseroan bertahan di peringkat idAA-/Stable selama tiga tahun. Kenaikan ini berlangsung bersamaan dengan persiapan Inalum memenuhi kebutuhan pendanaan yang lebih besar untuk proyek hilirisasi aluminium periode 2026-2029.

Biaya Produksi di Kuartil Teratas Dunia

S&P mencatat struktur biaya operasional Inalum tergolong kompetitif. Perusahaan mampu beroperasi pada kuartil pertama kurva biaya global, jauh lebih efisien dibanding rata-rata industri aluminium pada 2026.

Efisiensi itu ditopang pasokan energi hidro yang stabil dan integrasi bahan baku domestik. Kombinasi keduanya memberi daya tahan bagi Inalum saat harga aluminium global bergejolak.

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air juga membuat smelter Inalum menekan emisi karbon, tanpa mengorbankan profitabilitas dan efisiensi biaya produksi. Saat ini Inalum mengoperasikan smelter aluminium primer berkapasitas sekitar 275 ribu ton per tahun.

Ketergantungan Impor Alumina Mulai Diputus

Melalui kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Inalum berhasil mengurangi ketergantungan pada impor bahan baku alumina. BAI mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.

Melati menambahkan, pengembangan SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 (Smelter 2) masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional. Keduanya dirancang memperkuat integrasi rantai nilai aluminium nasional.

SGAR 2 direncanakan menambah kapasitas produksi alumina sekitar 1 juta ton per tahun, sehingga total kapasitas alumina Inalum akan berlipat dua dari posisi sekarang. Pengembangan proyek-proyek tersebut mendapat dukungan pemegang saham utama, baik lewat kemitraan strategis maupun dukungan permodalan.

Bagi pasar, peringkat investment grade dari S&P memperlebar ruang Inalum menerbitkan surat utang global dengan bunga lebih rendah. Modal itu bakal dipakai membiayai ekspansi smelter dan kilang alumina yang menjadi tulang punggung hilirisasi bauksit nasional.

Follow kabarpalangkaraya.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks