KALIMANTAN TENGAH — Isu pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat memanas. Di tengah anjloknya dukungan publik, pemerintah AS justru menganggap fasilitas ini sebagai kunci pertumbuhan ekonomi, sementara pengembang dan investor mulai waspada terhadap gelombang perlawanan lokal. Kondisi ini berpotensi memengaruhi masa depan industri teknologi, termasuk layanan gaming berbasis cloud yang bergantung pada infrastruktur AI.
Penolakan Warga Terus Meningkat
Survei Gallup pada Maret lalu mencatat lonjakan penolakan yang signifikan. Tujuh dari sepuluh orang Amerika kini menentang pembangunan data center AI di lingkungan mereka, dengan 48% di antaranya menyatakan sangat menentang.
Laporan Wolfe Research pada 28 Agustus menggambarkan situasi ini sebagai hal yang belum pernah terjadi sebelumnya. "Kecepatan dan skala penolakan benar-benar mencengangkan, kami belum pernah melihat yang seperti ini. Kami melihat penurunan 60 poin dukungan bersih untuk pembangunan data center lokal lintas partai selama 12 bulan terakhir," tulis laporan tersebut.
Trump Buka Suara
Menanggapi resistensi publik, Presiden Trump mengeluarkan pernyataan tegas melalui platform Truth Social. Ia mengklaim penolakan terhadap pusat data hanya akan merugikan warga AS sendiri dan menguntungkan kompetitor global.
"Satu-satunya alasan mengapa masyarakat di seluruh AS tak menginginkan Data Center adalah jika mereka ingin berakhir terbelakang dan miskin. Jika mereka ingin sukses dan kaya, dengan pajak yang jauh lebih rendah dan lapangan kerja di mana-mana, biarkan Data Berjaya," tulisnya. Ia menambahkan, "China sangat gembira dengan gerakan anti Pusat Data ini. Sebenarnya, mereka tidak percaya ini sedang terjadi!"
Pernyataan ini muncul hampir sepekan setelah memo internal National Republican Senatorial Committee (NRSC) memperingatkan dampak politik dari isu ini. "Jika persepsi pemilih tentang data center tidak segera diperbaiki, kampanye menentang data center ini akan meluas jauh melampaui Ohio," bunyi memo tersebut.
Kekhawatiran yang Muncul di Akar Rumput
Lonjakan pembangunan pusat data memicu kekhawatiran di berbagai komunitas. Para penentang menyoroti dampak nyata yang mereka rasakan, seperti biaya listrik yang melonjak, kebutuhan daya yang sangat besar, konsumsi air yang tinggi, dan dampak lokal lainnya.
Data center AI sendiri berfungsi sebagai rumah bagi peralatan komputasi untuk melatih dan menjalankan model AI dari perusahaan seperti OpenAI dan Anthropic. Semakin canggih modelnya, semakin besar pula kebutuhan energinya.
Dampak ke Politik dan Industri Gaming
Isu ini sudah masuk ke ranah politik praktis. NRSC menyebutkan bahwa calon dari Partai Demokrat, Sherrod Brown, menjadikan penolakannya terhadap proyek data center sebagai fokus utama kampanye untuk kursi Senat Ohio melawan Senator Partai Republik, Jon Husted. "Brown menggunakannya karena cara ini berhasil," kata NRSC.
Bagi industri teknologi, khususnya gaming, situasi ini menjadi sinyal bahaya. Infrastruktur AI adalah tulang punggung layanan cloud gaming dan sistem anti-cheat generasi baru. Jika pembangunan data center terhambat di AS, perusahaan bisa saja mengalihkan investasi ke negara lain, yang berpotensi memengaruhi latensi server untuk pemain di Asia dan Indonesia.
Para investor kini bertanya-tanya bagaimana resistensi ini akan berakhir. Wolfe Research mengungkapkan, "Hampir dalam setiap pertemuan dengan investor selama sebulan terakhir, kami ditanya bagaimana reaksi penolakan pemilih terhadap data center ini akan berakhir." Ketidakpastian ini menjadi momok bagi ekspansi infrastruktur digital global, termasuk layanan yang bergantung pada server regional.