JAKARTA — Mata uang Garuda memulai perdagangan dengan tren negatif. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah melemah 54 poin atau 0,30 persen jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. Level Rp17.855 per dolar AS ini nyaris menyentuh batas psikologis Rp17.900.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang utama di kawasan Asia juga kompak terdepresiasi terhadap dolar AS. Ringgit Malaysia turun 0,24 persen, dolar Singapura melemah 0,16 persen, dan yuan China terkoreksi 0,05 persen. Yen Jepang dan peso Filipina juga turun masing-masing 0,04 persen dan 0,18 persen.
Satu-satunya yang mencatatkan penguatan tipis adalah dolar Hong Kong dengan kenaikan 0,03 persen. Sementara itu, mata uang negara maju seperti euro Eropa dan poundsterling Inggris juga tak luput dari tekanan, masing-masing turun 0,13 persen dan 0,19 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah pagi ini merupakan reaksi pasar terhadap berita penyerangan terbaru yang dilakukan Amerika Serikat ke Iran. "Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dolar AS yang menguat menyusul berita penyerangan terbaru AS ke Iran, memperumit prospek harapan pada perdamaian di Timur Tengah," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Kondisi geopolitik yang memanas membuat investor cenderung beralih ke aset safe haven, terutama dolar AS. Alhasil, permintaan terhadap greenback meningkat dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Lukman memperkirakan pergerakan rupiah pada hari ini akan berada dalam rentang Rp17.750 hingga Rp17.900 per dolar AS. Ia menambahkan, volatilitas masih mungkin terjadi jika ada perkembangan baru dari konflik di Timur Tengah.
Pelaku pasar dan importir pun diminta untuk mencermati pergerakan ini, mengingat pelemahan rupiah berpotensi mendongkrak harga barang-barang impor dan mempengaruhi biaya produksi dalam negeri. Bank Indonesia sendiri diperkirakan akan terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar di level yang wajar.