Stasiun Meteorologi Kelas II Haji Asan Sampit mencatat akumulasi titik panas di Kotawaringin Timur mencapai 259 titik dalam 24 jam terakhir, dengan sebaran terbanyak di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Kondisi ini membuat tingkat kemudahan terbakar bahan bakar permukaan berada pada kategori sangat tinggi hingga 30 Agustus 2026, seiring minimnya suplai hujan yang turun di wilayah selatan Kalimantan Tengah.
SAMPIT — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II Haji Asan Sampit memperingatkan potensi kekeringan di Kotawaringin Timur (Kotim) masih akan terus meningkat hingga akhir Agustus 2026. Kepala BMKG Kotim Mulyono Leo Nardo menyebut prakiraan cuaca beberapa hari ke depan masih panas, dengan tingkat kemudahan kebakaran sangat tinggi.
"Prakiraan cuaca kita beberapa hari kedepan masih panas, lalu sampai 30 Agustus itu tingkat kemudahan kebakarannya sangat tinggi," kata Mulyono di Sampit, Selasa.
259 Titik Panas Terkonsentrasi di Wilayah Selatan
Akumulasi titik hotspot dalam 24 jam terakhir, Senin (24/8), mencapai 259 titik. Sebaran terbanyak berada di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, wilayah yang selama ini menjadi langganan karhutla di Kotim.
BMKG mengingatkan pergerakan angin berpotensi membawa asap kebakaran menuju pusat Kota Sampit. Berdasarkan analisis angin lapisan 3.000 kaki, sebaran asap di Kalimantan Tengah bergerak dominan dari arah tenggara menuju barat, barat laut, hingga utara.
Hujan Masih Terbatas di Wilayah Utara
Pemantauan curah hujan dalam 24 jam terakhir menunjukkan suplai air masih sangat minim. Hujan yang turun hanya tercatat di wilayah utara seperti Tualan Hulu dengan intensitas 0,1 hingga maksimal 5 milimeter, sementara wilayah selatan belum ada potensi hujan sama sekali.
Citra satelit pada 23 dan 24 Agustus juga memperlihatkan tutupan awan di Kotim relatif cerah. Kondisi ini belum mendukung pembentukan awan hujan secara signifikan untuk memadamkan titik-titik api yang bermunculan.
Bibit Siklon Tropis Semakin Mengeringkan Kotim
Mulyono menjelaskan terdapat bibit siklon tropis di wilayah utara yang berpotensi menyerap uap air dari atmosfer. Fenomena ini justru membuat wilayah Kotim semakin kering dan memperparah kondisi kekeringan yang sudah berlangsung.
"Di utara ada bibit tropical cyclone, itu berpotensi menyerap uap udara lagi. Jadi kita kering, semakin kering," jelasnya.
Lapisan Tanah Dalam Mulai Kering, Api Berpotensi Bertahan Lama
BMKG menggunakan indikator Fine Fuel Moisture Code (FFMC) untuk mengukur tingkat kemudahan bahan bakar permukaan terbakar. Pada periode 24 hingga 30 Agustus, lapisan permukaan sedalam 1-2 sentimeter berada pada kategori sangat tinggi.
Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi serupa mulai terlihat pada lapisan tanah lebih dalam. Pada kedalaman 2-5 sentimeter, potensi kebakaran dinilai semakin meningkat karena wilayah Kotim belum menerima suplai hujan memadai dalam beberapa waktu terakhir.
"Apalagi kalau sudah merambat, posisinya akan menyebar lebih cepat," sebut Mulyono.
Pada lapisan sekitar 10 sentimeter ke bawah, tingkat kemudahan terbakar di bagian selatan Kotim juga berada pada kondisi sangat tinggi hingga akhir Agustus. Artinya, api tidak hanya membakar permukaan tetapi berpotensi bertahan dan meluas di dalam tanah ketika kebakaran terjadi.
Peluang Hujan Hampir Nihil Mulai 25 Agustus
BMKG memprakirakan peluang pertumbuhan awan hujan masih terbuka secara terbatas pada 24-25 Agustus, terutama di wilayah utara Kotim dengan peluang 50-70 persen. Namun peluang tersebut menurun drastis mulai 25 hingga 30 Agustus.
"Jadi untuk prakiraan cuaca kita seminggu ke depan masih panas," imbuhnya.
Mulyono mengimbau masyarakat dan seluruh pihak terkait meningkatkan kewaspadaan terhadap karhutla, khususnya di wilayah dengan tingkat kemudahan terbakar tinggi. Larangan membakar lahan perlu dipatuhi mengingat kondisi atmosfer yang sangat kering dan rawan memicu kebakaran meluas.