Karhutla di Sekitar Ujung Landasan Bandara Haji Asan Sampit Dapat Penanganan Ekstra, Wabup Terjun Langsung

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 01:01:31 WIB
Petugas gabungan memadamkan api karhutla di kawasan KKOP Bandara Haji Asan Sampit, Kotawaringin Timur, Rabu (tanggal).

SAMPIT — Titik api di kawasan KKOP Bandara Haji Asan Sampit muncul sekitar pukul 13.10 WIB dan dengan cepat membesar karena lokasi yang terbakar merupakan lahan gambut serta semak belukar yang mengering selama musim kemarau. Kondisi ini dinilai krusial karena berada tepat di sekitar ujung landasan pacu, sehingga berpotensi mengganggu jadwal penerbangan yang sempat dijadwalkan mendarat di Kota Sampit.

Wakil Bupati Kotim Irawati mengaku langsung turun ke lapangan setelah menerima laporan adanya kebakaran cukup besar dengan minimnya armada pemadaman di lokasi. Ia segera menghubungi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kotim untuk mengerahkan personel serta unit tambahan.

Mengapa Titik Api di Kawasan KKOP Lebih Krusial?

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam menegaskan bahwa penanganan karhutla di area KKOP memang membutuhkan upaya lebih dibandingkan lokasi lain. Aspek keselamatan penerbangan menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar.

"Penanganan di kawasan KKOP memang agak ekstra karena bagaimana transportasi udara tetap bisa jalan seperti biasanya," ujar Multazam kepada awak media di lokasi kejadian.

Selain di Jalan Tjilik Riwut kilometer 6, pihaknya juga memberikan perhatian serius terhadap kebakaran di Jalan Jaksa Agung yang masih berada dalam kawasan KKOP. Jarak titik api dari pinggir jalan mencapai sekitar 500 hingga 550 meter, sehingga menyulitkan pengerahan unit pemadaman darat.

Kendala di Lapangan: Gambut Tebal dan Hutan Sekunder

Proses pemadaman di Jalan Jaksa Agung terkendala vegetasi berupa hutan sekunder dan pionir yang membatasi pergerakan pasukan darat. "Untuk penanganan itu memang agak panjang, karena di dalamnya ada hutan-hutan sekunder atau pionir-pionir baru hutan, sehingga pergerakan pasukan darat memang kesulitan," ungkap Multazam.

Karakteristik lahan gambut yang cukup tebal juga menyebabkan api berpotensi menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan suplai air dan waktu yang lebih panjang dibandingkan kebakaran di lahan mineral.

Kolaborasi TNI-Polri dan Relawan Mempercepat Pemadaman

Irawati mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam penanganan kebakaran tersebut. Kolaborasi antara Satgas Karhutla dan Kekeringan Kotim, personel tambahan serta armada dari Kodim 1015/Sampit, Polres Kotim, dan relawan membuat api yang sempat membesar dapat dikendalikan.

Dandim 1015/Sampit Letkol Inf Dwi Candra Setyawan dan Kapolres Kotim AKBP Resky Maulana Zulkarnain juga terpantau berada di lokasi untuk memantau proses pemadaman. Jajaran Korem 102/Pjg ikut turun memantau penanganan karhutla di titik tersebut.

Wabup Irawati bahkan turut membantu pengamanan arus lalu lintas ketika kabut asap cukup pekat menyelimuti ruas jalan di sekitar lokasi dan mengganggu jarak pandang pengendara. "Kita lihat sendiri hari ini kerja sama yang sangat luar biasa sehingga pemadaman berjalan dengan lancar," ucapnya.

Sebaran Titik Api di Sampit Masih Meluas

Berdasarkan laporan cepat Pusdalops PB Posko Bencana Karhutla dan Kekeringan Kotim hingga pukul 13.30 WIB, terdapat sembilan lokasi yang ditangani regu gabungan pada Rabu. Lokasi tersebut meliputi Jalan Jaksa Agung, Jalan WMP 31 Jalur 7, Jalan Lingkar Utara kawasan Perumahan Sultan Bintang, Jalan Tjilik Riwut kilometer 7, Jalan Ir. Soekarno di belakang Kementerian Agama, Jalan Jenderal Sudirman kilometer 3,5 hingga kilometer 2,5, serta Gang Melati.

Personel BPBD, Disdamkarmat, dan Yonif Teritorial Pembangunan dikerahkan dalam sejumlah regu dengan kekuatan sekitar sembilan hingga 12 orang per unit. Dukungan suplai air dilakukan secara bergantian oleh tim BPBD, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), dan unsur pemadam lainnya.

Untuk mempercepat penanganan, regu yang sebelumnya bersiaga di Jalan Jenderal Sudirman kilometer 3,5 turut digeser menuju kilometer 2,5, termasuk kawasan sekitar Hotel Aquarius. Pola pengerahan tersebut dilakukan menyesuaikan perkembangan titik api dan kebutuhan di lapangan.

Multazam menambahkan bahwa skala karhutla di Kotim sepanjang tahun ini menunjukkan ancaman yang serius. Berdasarkan data BPBD sejak Januari hingga 25 Agustus 2026, tercatat 493 kejadian dengan luas lahan terbakar yang terus bertambah seiring puncak musim kemarau.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: kalteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top