KALIMANTAN TENGAH — Musim 2026-27 Premier League belum bergulir, tapi peta persaingan perebutan Sepatu Emas sudah mulai panas. Erling Haaland datang dengan modal 112 gol dari 132 penampilan di liga, plus torehan tujuh gol saat membawa Norwegia ke perempat final Piala Dunia 2026. Namun, moncernya beberapa penyerang baru dan mulai stabilnya para pemburu gol lain membuat musim ini terasa berbeda.
Yang menarik, dari 42 Sepatu Emas yang pernah diberikan sepanjang sejarah Premier League, hanya 12 kali pemenangnya juga mengangkat trofi juara di musim yang sama. Artinya, peluang pemain dari klub non-juara untuk jadi top skor tetap terbuka lebar.
Nama Alexander Isak sempat tenggelam musim lalu. Penyerang Swedia berusia 26 tahun itu hanya mencetak empat gol dalam 22 laga di semua kompetisi bersama Liverpool, jauh dari ekspektasi setelah kepindahannya dari Newcastle dengan nilai mencapai 125 juta poundsterling.
Namun, angkanya musim 2024-25 berbicara lain: 23 gol di Premier League, hanya kalah dari Mohamed Salah. Kini dengan pelatih baru Andoni Iraola yang diharapkan mampu membangun skema suplai bola yang lebih baik, Isak punya semua modal untuk membuktikan nilai transfernya.
Kisah Thiago menjadi salah satu narasi menarik musim ini. Striker Brentford berusia 25 tahun itu melewatkan hampir seluruh musim pertamanya di Inggris karena cedera, lalu bangkit dengan 22 gol di Premier League pada musim keduanya — catatan yang mengantarnya ke skuad Brasil di Piala Dunia 2026.
Ketertarikan Manchester United terhadapnya kabarnya masih menguat. Jika bertahan di Brentford, ia tetap akan menjadi ancaman serius. Jika pindah ke klub yang lebih besar, potensi suplai bolanya justru bisa meningkat.
Joao Pedro mencetak 15 gol untuk Chelsea musim lalu setelah pindah dari Brighton. Tantangannya kini adalah adaptasi di bawah pelatih baru Xabi Alonso, yang di Leverkusen lebih sering membagi rata gol antar pemain — tak ada satu pun pemainnya mencetak lebih dari 14 gol di Bundesliga musim 2023-24.
Sementara itu, Viktor Gyokeres menjalani musim debut yang stabil di Arsenal dengan 14 gol liga. Yang menarik, 14 dari total 21 golnya di semua kompetisi datang setelah pergantian tahun, sinyal bahwa ia mulai menemukan ritme di Premier League. Jika performa itu bisa dipertahankan sejak awal musim, ia layak diperhitungkan.
Sejak bergabung dengan Aston Villa pada September 2020, Ollie Watkins telah mengoleksi 91 gol di Premier League — hanya kalah dari Haaland dan Salah di periode yang sama. Namun, untuk benar-benar menantang gelar, ia perlu melampaui catatan 16 gol liga musim lalu dan mendekati rekor pribadinya saat di Championship: 25 gol dalam semusim.
Benjamin Sesko, di sisi lain, adalah pemain dengan momentum terbaik. Sebelas golnya musim lalu memang biasa saja, tapi sembilan di antaranya datang setelah Manchester United memecat Ruben Amorim pada 5 Januari dan beralih ke formasi empat bek di bawah Michael Carrick. Hanya Morgan Gibbs-White yang mencetak lebih banyak gol dari Sesko di periode tersebut. Di usianya yang baru 23 tahun, konsistensi menjadi kata kunci baginya.
Satu hal yang pasti: musim ini Haaland tak hanya akan berhadapan dengan bek-bek Premier League, tapi juga dengan ekspektasi untuk menyamai rekor empat Sepatu Emas — sesuatu yang belum pernah dilakukan pemain mana pun dalam sejarah liga.