Mazda Mulai Produksi CX-30 di Bogor, Investasi Awal Rp 400 Miliar untuk Pabrik SKD

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 09:07:25 WIB
Mazda memulai produksi CX-30 di pabrik perakitan baru di Bogor dengan investasi awal sebesar Rp 400 miliar.

KALIMANTAN TENGAH — Pabrik yang berdiri di atas lahan seluas 6,2 hektare ini memiliki kapasitas produksi 5.700 unit per tahun. Mazda Indonesia Plant mengadopsi standar manufaktur global dengan delapan area utama, termasuk lini perakitan, inspeksi kualitas, test track, dan water leak test. Seluruh proses produksi terintegrasi sistem digital untuk ketertelusuran setiap unit.

Investasi Awal dan Potensi Penambahan Modal

Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia sekaligus Presiden Direktur Mazda Indonesia, Ricky Thio, menyatakan nilai Rp 400 miliar merupakan investasi awal pembangunan fasilitas. "Investasi terus berjalan karena menjelang mass production masih ada beberapa penambahan fasilitas sesuai standar global Mazda," ujarnya. Ia menegaskan 100 persen investasi berasal dari internal perusahaan.

Ricky menyebut perakitan CX-30 adalah langkah awal sebelum perusahaan mengembangkan kegiatan manufakturnya. "Kami mulai dengan satu model, tetapi tidak berhenti di situ. Ini adalah baby step. Nanti akan menjadi giant step," kata dia. Pendekatan ini sejalan dengan filosofi manufaktur Jepang yang mengedepankan persiapan matang sebelum produksi massal.

Target TKDN dan Jaminan Kualitas Setara Jepang

Melalui fasilitas baru ini, Mazda menargetkan peningkatan efisiensi operasional dan penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Perusahaan juga berfokus pada pengembangan kompetensi sumber daya manusia serta transfer teknologi manufaktur. Setiap kendaraan akan melalui serangkaian audit kualitas, mulai dari process audit, product audit, hingga Mazda Quality Index for Customer (MQIC).

Mazda menerapkan filosofi Monozukuri dan Takumi Craftsmanship dengan target zero defect. Ricky menjamin kualitas kendaraan rakitan Indonesia tidak berbeda dengan produk dari Hiroshima. "Jadi apa yang didapat konsumen dari produksi dalam negeri tidak akan berbeda dengan hasil produksi Mazda Motor Corporation di Hiroshima," tegasnya.

Apresiasi Pemerintah dan Dampak ke Industri Otomotif

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, Setia Diarta, mengapresiasi langkah Mazda sebagai pabrikan Jepang terakhir yang membangun pabrik di Indonesia. "Ini akan tumbuh berkembang seiring dengan kondisi pasar. Saya yakin, adanya fasilitas produksi menjadi trigger yang baik bagi Mazda dan Eurokars ke depan baik dalam investasi dan penyerapan tenaga kerja," katanya.

Ricky menambahkan, kehadiran pabrik perakitan ini membuktikan Indonesia memiliki talenta dan kapasitas dalam mendukung pengembangan Mazda. "Hari ini menjadi momen yang penting bagi Mazda di Indonesia. Yang kami resmikan bukan sekadar manufaktur melainkan wujud nyata bahwa Indonesia memiliki talenta dan kapasitas," ujarnya. Perusahaan memilih membangun fondasi manufaktur yang kuat dibanding mengejar ekspansi secara terburu-buru.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: otomotif.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top