KALIMANTAN TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 44 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.987 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Posisi ini merupakan yang terlemah dalam beberapa pekan terakhir, menjauh dari level psikologis Rp17.900 yang sempat disentuh pekan lalu.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari eksternal, yakni rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS. Inflasi inti PCE, yang menjadi tolok ukur utama The Fed, tercatat naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023.
"Rupiah diperkirakan melemah terhadap dolar AS setelah data inflasi AS PCE yang menunjukkan kenaikan pada inflasi inti mencapai tingkat tertinggi sejak Oktober 2023. Pernyataan hawkish pejabat The Fed juga meningkatkan prospek kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Pernyataan bernada agresif dari sejumlah pejabat The Fed pekan ini makin memperkuat sentimen tersebut, mendorong imbal hasil obligasi AS naik dan menarik aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Sebagian besar mata uang Asia juga terdepresiasi terhadap dolar AS pada pagi hari ini. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,38 persen, disusul dolar Singapura yang turun 0,05 persen, dan yen Jepang yang melemah 0,03 persen. Yuan China juga terkoreksi tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, hanya ringgit Malaysia yang mencatat penguatan signifikan sebesar 0,31 persen, diikuti peso Filipina (0,07 persen) dan dolar Hong Kong (0,01 persen). Di kelompok mata uang utama negara maju, dolar Kanada menjadi satu-satunya yang menguat dengan kenaikan 0,03 persen terhadap dolar AS.
Lukman Leong memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada hari ini. Ia memproyeksikan rentang perdagangan berada di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS.
Level Rp18.000 menjadi resistance psikologis yang krusial. Jika tembus, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan semakin besar, terutama jika data ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payroll) yang akan dirilis pekan depan juga menunjukkan hasil yang solid. Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan dolar AS dan menunggu sinyal kebijakan lanjutan dari Bank Indonesia.
Investasi mengandung risiko.