PALANGKA RAYA — BNPB mencatat luas lahan terbakar secara nasional mencapai sekitar 41.554 hektare, dengan 26.681 hektare di antaranya belum padam. Angka itu disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan kepada wartawan, Minggu (25/10/2026).
Kalimantan Tengah menyumbang porsi terbesar dari lahan yang belum padam. Dari 25.942 hektare yang terbakar di provinsi ini, sekitar 19.076 hektare masih menyala. Titik panasnya mencapai 13.297, jauh di atas wilayah lain.
Sumsel dan Jambi Jadi Prioritas Berikutnya
Sumatra Selatan menyusul sebagai prioritas penanganan dengan 2.187 hektare lahan belum padam. Kondisi di Jambi memburuk: luas lahan yang belum padam naik menjadi 716 hektare, dari 377 hektare pada hari sebelumnya.
Di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur, sejumlah indikator karhutla menunjukkan penurunan dibanding hari sebelumnya. BNPB menegaskan penurunan itu bukan alasan menghentikan penanganan.
"Pemadaman, pendinginan, dan patroli tetap harus dilanjutkan untuk mencegah api kembali menyala," jelas Berton.
Mengapa Penurunan Titik Panas Belum Cukup
Berton menyebut tren hotspot dalam beberapa pekan terakhir masih dinamis. Penurunan di sejumlah wilayah dibarengi peningkatan titik panas dan luas kebakaran di wilayah lain.
"Karena itu, kita tidak bisa hanya melihat penurunan hotspot dalam satu hari sebagai tanda bahwa karhutla sudah terkendali," kata Berton.
BNPB menilai keberhasilan penanganan tidak cukup diukur dari jumlah titik panas. Ukuran lain yang dipakai adalah berkurangnya luas kebakaran yang belum padam dan terlindunginya warga dari paparan asap.
71.878 Personel dan 58 Armada Udara Dikerahkan
Pada 22 Oktober 2026, tercatat 71.878 personel darat dan 58 armada udara mendukung penanganan kebakaran. Armada udara dipakai untuk water bombing dan patroli.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan dry ice dan natrium klorida (NaCl) dilaksanakan di Kalimantan Tengah dan Sumatra Selatan. Hasil yang dilaporkan meliputi hujan di sebagian wilayah Kalteng, serta peningkatan jarak pandang dan penurunan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Sumsel.
BNPB menegaskan hasil OMC masih perlu dievaluasi. Hujan lokal dan membaiknya kualitas udara belum menjadi bukti seluruh sumber api telah padam.
Lahan Gambut Jadi Fokus Pemadaman
Prioritas BNPB adalah memastikan api benar-benar padam, terutama di lahan gambut. Lahan gambut menyimpan bara di bawah permukaan sehingga api mudah menyala kembali setelah tampak padam.
"Prioritas kami adalah memastikan api benar-benar padam, terutama di lahan gambut, melindungi masyarakat dari paparan asap, serta mencegah kebakaran berulang," ujar Berton.
BNPB memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah serta kementerian dan lembaga terkait. Penanganan karhutla di Kalteng masih berlangsung intensif karena luas lahan yang belum padam belum menunjukkan penurunan signifikan.