SAMPIT — Empat desa di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) resmi mengajukan permohonan bantuan air bersih ke BPBD setempat akibat kemarau yang mulai mengeringkan sumber air. Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengonfirmasi bahwa desa yang terdampak adalah Kuin Permai, Lampuyang, Regei Lestari, dan Jaya Karet. Berbeda dengan bantuan darurat sekali kirim, keempat desa ini meminta pasokan dilakukan secara periodik selama musim kemarau.
Volume Air Capai 20.000 Liter per Pengiriman
Menurut Multazam, kebutuhan air bersih yang diajukan cukup besar, berkisar 15.000 hingga 20.000 liter setiap kali distribusi. Untuk mengangkut volume tersebut, BPBD membutuhkan empat hingga lima truk tangki dalam satu kali perjalanan.
“Bantuan air bersih ini termonitor sudah ada empat desa yang mengajukan. Keempat-empatnya ini minta bantuan secara periodik, bukan sekali kirim,” ujarnya.
BPBD Gandeng Perumdam untuk Pasokan Berkelanjutan
BPBD telah berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Mentaya untuk memastikan distribusi berjalan lancar. Multazam menargetkan pengiriman perdana bisa dimulai dalam pekan ini.
“Kami sudah berkomunikasi dengan Direktur Perumdam Tirta Mentaya, dan kita berharap secara periodik mereka sudah mempersiapkan strategi untuk pengiriman air bersih. Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah mulai proses pengiriman,” jelasnya.
Rata-rata 200 Liter per KK, Hanya Bertahan Seminggu
Multazam memperkirakan dengan alokasi 200 liter per kepala keluarga, pasokan air hanya mampu bertahan sekitar satu pekan. “Kalau kita hitung 15.000 liter, satu KK cuma dapat 200 liter. Kira-kira untuk makan minum paling seminggu habis. Tujuh hari habis sudah,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi tantangan logistik tersendiri, apalagi jika musim kemarau berkepanjangan dan wilayah terdampak meluas.
Daerah Pesisir Berpotensi Menyusul, Distribusi Lewat Sungai Jadi Opsi
BPBD mengantisipasi bertambahnya desa yang krisis air bersih, terutama di kawasan pesisir yang rentan terhadap intrusi air laut. Multazam menyebut wilayah seperti Pulau Hanaut dan Seranau berpotensi terdampak, namun hingga kini belum ada permohonan bantuan dari sana.
“Pasti (bertambah). Kita belum masuk daerah Pulau Hanaut, Seranau. Karena di sana tidak tersedia cukup ketika terjadi infiltrasi air laut. Distribusinya harus menggunakan perahu,” tuturnya.
Pengiriman air bersih melalui jalur sungai sebenarnya bukan hal baru. BPBD pernah melakukannya saat kemarau panjang pada 2015 dan 2019 menggunakan perahu besar.
“Pernah. Tahun 2019 dan 2015 kita menggunakan profil pada perahu besar, kita masukkan, kita kirim,” katanya.
Harapan pada Perbaikan Lingkungan di Wilayah Seberang
Meski bersiaga, BPBD berharap kondisi lingkungan di wilayah seberang masih mampu menyediakan sumber air yang layak konsumsi. “Kita berharap adanya perbaikan lingkungan di seberang, mudah-mudahan air dari rimba itu masih layak konsumsi,” pungkas Multazam.