KALIMANTAN TENGAH — Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menegaskan percepatan transformasi menjadi kunci utama. Program streamlining atau perampingan ini akan dilakukan melalui konsolidasi, divestasi, restrukturisasi portofolio bisnis, dan penyederhanaan struktur usaha.
"Percepatan transformasi dan penguatan keandalan sistem kelistrikan menjadi kunci agar PLN semakin efektif mendukung ketahanan energi nasional," ujar Dony dalam keterangan resmi, Rabu (3/4).
Targetnya, hingga tahun 2028, jumlah entitas usaha PLN akan menyusut signifikan. Dari saat ini yang mencapai 44 entitas, akan dirampingkan menjadi hanya 23 entitas. Langkah ini diyakini dapat menciptakan struktur bisnis yang lebih fokus dan terintegrasi.
Proyek Kelistrikan dan Pembenahan Pasca Blackout
Selain soal korporasi, pertemuan tersebut juga membahas perkembangan proyek kelistrikan nasional. PLN melaporkan bahwa implementasi Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 menunjukkan progres positif. Dari total proyek yang direncanakan, sekitar 1.634 proyek atau hampir 40 persen sudah masuk tahap eksekusi.
Capaian ini mencakup pembangunan pembangkit listrik baru, jaringan transmisi, hingga gardu induk untuk memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.
Pembahasan utama lainnya adalah langkah penguatan sistem kelistrikan pasca gangguan yang terjadi di Sumatera. PLN terus melakukan evaluasi dan menyiapkan sejumlah proyek strategis untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Infrastruktur Backbone Sumatera Jadi Prioritas
Untuk memperkuat ketahanan sistem di Sumatera, PLN tengah menyiapkan penguatan infrastruktur backbone kelistrikan. Proyek yang direncanakan meliputi pembangunan jaringan transmisi bertegangan tinggi 500 kV, 275 kV, dan 150 kV.
Selain itu, penambahan kapasitas pembangkit di berbagai wilayah juga akan dilakukan. Langkah-langkah ini bertujuan meminimalkan risiko gangguan dan memastikan pasokan listrik lebih andal bagi masyarakat dan industri di Pulau Sumatera.