Anggota DPRD Kalteng Wengga Febri Dwi Tanada Ajak Keluarga dan Sekolah Biasakan Bahasa Daerah Sejak Dini

Penulis: Oki Setiawan  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:03:31 WIB
Anggota DPRD Kalteng Wengga Febri Dwi Tanada mengajak orang tua membiasakan penggunaan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari di rumah.

PALANGKA RAYA — Wengga Febri Dwi Tanada menilai bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan penyimpan nilai kehidupan, nasihat, dan pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Karena itu, ia meminta orang tua membiasakan anak-anak memakai bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari. Kebiasaan kecil di rumah dinilai lebih menentukan dibanding kampanye sesekali.

Mengapa Keluarga Jadi Titik Awal Pelestarian

Menurut Wengga, keluarga adalah ruang pertama tempat anak mengenal bahasa yang diwariskan generasi sebelumnya. Tanpa pembiasaan di rumah, bahasa daerah berisiko hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah, bukan bahasa yang hidup.

"Karena ada pelestarian bahasa daerah dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua diharapkan membiasakan anak-anak menggunakan bahasa daerah dalam percakapan sehari-hari agar mereka mengenal dan memahami bahasa yang diwariskan oleh generasi sebelumnya," ucap Wengga.

Ia menambahkan, penggunaan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari merupakan langkah sederhana untuk mempertahankan keberadaannya. Dengan kebiasaan itu, bahasa daerah terus dipakai dan tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.

Sekolah dan Media Digital Jadi Jalur Pengenalan

Selain keluarga, Wengga menyoroti peran lingkungan sekolah dalam memperkenalkan bahasa dan budaya lokal kepada peserta didik. Pembelajaran semacam itu, katanya, membantu generasi muda memahami kekayaan tradisi daerahnya.

Perkembangan teknologi dan komunikasi juga dinilai perlu direspons, bukan dihindari. Media digital dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan kosakata, cerita rakyat, dan ungkapan tradisional kepada masyarakat luas.

Kegiatan kebudayaan disebutnya sebagai sarana lain untuk menumbuhkan minat. Lomba bercerita, membaca puisi, dan pertunjukan seni tradisional bisa memperkenalkan bahasa daerah dengan cara yang lebih menarik bagi anak dan remaja.

Dokumentasi untuk Kosakata yang Mulai Jarang Dipakai

Wengga menekankan pentingnya pendokumentasian bahasa daerah. Kosakata dan ungkapan yang mulai jarang digunakan perlu dicatat agar tetap tersedia sebagai bahan pembelajaran dan sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.

"Fokusnya adalah dokumentasi bahasa daerah juga penting dilakukan untuk menjaga kosakata dan ungkapan yang mulai jarang digunakan. Dokumentasi tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi mendatang," tambahnya.

Ia menyampaikan hal itu di Palangka Raya, Rabu (21/10/2026).

Bukan Hanya Tugas Pemerintah

Menurut Wengga, kesadaran masyarakat menjadi kunci. Pelestarian bahasa daerah tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, tokoh adat, dan komunitas budaya.

Generasi muda ia tempatkan sebagai faktor penentu. Dengan mengenal dan menggunakan bahasa lokal, mereka turut menjaga kesinambungan budaya sekaligus memperkuat rasa bangga terhadap identitas daerah.

"Adanya pelestarian bahasa daerah juga dapat memperkuat keberagaman budaya di Kalimantan Tengah. Setiap bahasa memiliki ciri khas dan nilai tersendiri yang menjadi bagian dari kekayaan budaya masyarakat," tanggapnya.

Wengga berharap ajakan itu membuat warga Kalimantan Tengah semakin peduli terhadap keberlangsungan bahasa dan budaya lokal. Dengan keterlibatan bersama, bahasa daerah dapat terus hidup, berkembang, dan diwariskan sebagai bagian dari identitas serta kekayaan budaya bangsa.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: beritakalteng.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top