Stok Beras Nasional 26 Juta Ton, Pemerintah Jamin Aman hingga Maret 2027

Penulis: Oki Setiawan  •  Senin, 21 September 2026 | 08:41:01 WIB
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan stok beras nasional mencapai 25–26 juta ton.

KALIMANTAN TENGAH — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan ketersediaan beras nasional mencapai 25–26 juta ton, cukup memenuhi kebutuhan hingga musim panen raya Maret 2027. Cadangan sebesar itu menjadi bantalan menghadapi musim kering dampak El Nino yang mengancam siklus pertanian. Dengan konsumsi hanya 2,5–2,6 juta ton per bulan, pemerintah menilai pasokan pangan berada di posisi sangat kuat.

Keyakinan itu disampaikan di tengah tekanan musim kering akibat El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Pemerintah menyiapkan sejumlah langkah penguatan, mulai dari pembenahan irigasi hingga penyediaan pupuk dengan harga lebih terjangkau.

Dari Mana Stok 26 Juta Ton Berasal

Kekuatan cadangan beras nasional berasal dari tiga sumber utama. Standing crop atau tanaman yang siap panen diperkirakan mencapai sekitar 10 juta ton.

Cadangan di sektor hotel, restoran, dan katering (Horeka) menyumbang sekitar 10 juta ton. Sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di Perum Bulog menyentuh angka 5 juta ton.

"Yang di Horeka, hotel, rumah-rumah, restoran itu 10 juta ton. Di Bulog kurang lebih 5 juta ton, berarti (stok beras secara keseluruhan sekitar) 25–26 juta ton. Sementara kebutuhan per bulan 2,5–2,6 juta ton," ujar Amran di Jakarta, dikutip dari Antara.

Dengan tingkat konsumsi nasional 2,5–2,6 juta ton per bulan, cadangan yang ada setara kebutuhan hampir sepuluh bulan ke depan. Kondisi ini memberi ruang bagi pemerintah melewati masa antarmusim atau paceklik tanpa gejolak pasokan berarti.

Antisipasi Jeda Antarmusim

Amran menekankan kekuatan pilar pangan tidak cukup hanya bertumpu pada cadangan yang ada saat ini. Kontinuitas produksi di tingkat petani menjadi kunci agar pasokan tetap terjaga di jeda antara satu musim panen dan musim panen berikutnya.

"Pemerintah memastikan ketahanan pangan nasional semakin kuat menghadapi musim kering dampak El Nino," kata Amran.

Ia memproyeksikan rentang waktu kritis bergerak dari September, Oktober, November, Desember, Januari hingga Mei, dengan puncak panen pada Maret. Menurutnya, periode tersebut saling tumpang tindih sehingga risiko kekosongan stok bisa ditekan.

"Sekarang September, Oktober, November, Desember, Januari sampai Mei. Pada yang puncak, Maret. Overlap," ujar Mentan.

Irigasi 1.000 Kilometer dan Pupuk Murah

Di sisi hulu, pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur irigasi untuk menjaga produktivitas lahan. Presiden Prabowo Subianto menyebut lebih dari 1.000 kilometer jaringan irigasi telah terbangun.

Jaringan itu memastikan ketersediaan air tetap terjaga, sehingga lahan pertanian bisa terus ditanami dan diolah secara optimal sepanjang tahun.

Perbaikan juga menyentuh sektor input produksi. Presiden menegaskan pemerintah berhasil menekan harga pupuk sekaligus menambah volume alokasinya bagi petani.

"Pertama kali dalam sejarah Indonesia, kita bisa turunkan harga pupuk. Harga pupuk turun, tapi jumlah pupuk tambah," kata Presiden.

Kebijakan itu menjadi stimulus langsung yang meringankan beban biaya budi daya petani, terutama saat harga input pertanian lain ikut menekan margin usaha tani.

Mulai Melirik Pasar Ekspor

Fondasi pasokan yang solid membuat Indonesia tidak lagi sekadar fokus memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pemerintah mulai membidik potensi pasar internasional melalui ekspor beras.

"Kita kan sudah ekspor. Coba sekali bertanya, kapan lagi ekspor?" ujar Amran.

Kombinasi kebijakan penguatan infrastruktur, pupuk terjangkau, dan penguatan produksi turut mendorong capaian swasembada pada delapan komoditas pangan dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Bagi pasar, angka 26 juta ton menjadi sinyal bahwa tekanan inflasi pangan dari sisi beras berpotensi lebih terkendali hingga pertengahan tahun depan. Namun keberlanjutan capaian ini tetap bergantung pada konsistensi produksi petani di lapangan dan pergerakan cuaca yang sulit diprediksi.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top