KALIMANTAN TENGAH — Bukan hanya mengejar target produksi, MIND ID juga menjalankan peran sebagai penggerak pembangunan nasional. Salah satu wujudnya adalah dengan menjaga agar lebih dari 90 persen pemasok mereka berasal dari dalam negeri, mulai dari usaha kecil hingga kontraktor besar.
Menurut Binahidra, keterlibatan pemasok lokal menyentuh seluruh lini bisnis pertambangan. Mulai dari tahap eksplorasi, penyediaan bahan bakar dan alat berat, suku cadang, jasa kontraktor, hingga kegiatan distribusi dan pemasaran produk.
Kebijakan ini, kata Binahidra, punya efek ganda. Pertama, memperkuat perekonomian di sekitar wilayah operasi karena uang berputar di komunitas lokal. Kedua, secara operasional, rantai pasok yang pendek justru memitigasi risiko gangguan pengiriman dan meningkatkan efektivitas biaya.
"Dari sisi rantai pasok dan aspek sosial, kami melihat keterlibatan pemasok lokal dan domestik sangat penting. TKDN menjadi salah satu ukuran pencapaian operasi dan bisnis kami," ujar Binahidra dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (30/7).
MIND ID tercatat terus memonitor komposisi pemasok secara berkala. Targetnya, proporsi pengusaha lokal dan domestik tidak boleh turun dari angka 90 persen terhadap total pemasok di seluruh grup.
Langkah holding tambang ini juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang tengah gencar mendorong hilirisasi mineral dan penguatan struktur industri nasional. Semakin banyak komponen dan jasa yang bisa dipasok dari dalam negeri, semakin besar efek berganda yang tercipta, mulai dari perluasan lapangan kerja hingga peningkatan kapasitas industri pendukung.
Binahidra menegaskan komitmen ini bukan sekadar formalitas. Sebagai BUMN, MIND ID mengemban tugas sebagai agen pembangunan (agent of development).
"Kami mendukung program pemerintah untuk mendorong kedaulatan ekonomi nasional," pungkasnya.