KALIMANTAN TENGAH — Jakarta — Fenomena AI telah memicu gelombang bisnis pusat data baru, mulai dari perusahaan besar hingga pemain kecil yang ingin menyewakan GPU untuk training dan inferensi. Namun, masalah klasik muncul: setelah GPU, switch jaringan, dan storage terkumpul, proses konfigurasi manual bisa memakan waktu berbulan-bulan. Semakin lama idle, semakin besar kerugian akibat GPU mahal yang menganggur.
Netris, startup yang sudah delapan tahun bergelut di otomatisasi jaringan, hadir dengan solusi khusus untuk masalah ini. Mereka baru saja mengumumkan pendanaan Seri A sebesar USD 15 juta dari Andreessen Horowitz (a16z), seperti dilaporkan TechCrunch secara eksklusif.
CEO Netris, Alex Saroyan, menjelaskan bahwa pendekatan tradisional menggunakan SDN (software-defined networking) sudah tidak memadai untuk beban kerja AI. "Untuk AI, software tidak cukup karena volume trafik sangat tinggi. Semua harus diakselerasi di level hardware," ujar Saroyan.
Platform Netris berjalan langsung di switch jaringan dan menawarkan abstraksi hardware. Artinya, operator bisa mengubah konfigurasi hardware tanpa harus menyentuh fisik perangkat. Fitur isolasi di lapisan hardware juga memungkinkan multi-tenancy — satu cluster GPU bisa melayani banyak pelanggan secara aman.
Salah satu keunggulan Netris adalah kompatibilitasnya yang luas. Platform ini vendor-agnostik, artinya bisa bekerja dengan peralatan jaringan dari berbagai merek, baik untuk server Nvidia maupun AMD.
Klaim ini terbukti menarik perhatian Nvidia. Dua tahun lalu, sang raksasa chip begitu terkesan dengan demo teknologi Netris hingga merekomendasikannya ke sejumlah pelanggan. Kini, Netris sudah beroperasi di lebih dari 35 GPU cluster di seluruh dunia — mencakup sekitar satu juta GPU — dengan klien seperti Lightning AI, Foxconn, Visionbay, Hewlett Packard Enterprise, TensorWave, dan Telus.
Menariknya, meski melayani industri AI, Netris justru tidak menggunakan AI di platformnya. "Kami memulai jauh sebelum AI. AI itu tidak deterministik, kadang suka bertindak sendiri. Cocok untuk pekerjaan kreatif, tapi untuk mengubah ribuan konfigurasi switch, Anda perlu yang persisten dan bisa diulang," tegas Saroyan.
Perusahaan hanya mengandalkan algoritma yang sudah mereka kembangkan sejak awal untuk otomatisasi dan operasional.
Dengan dana segar ini, Netris berencana merekrut lebih banyak insinyur dan staf penjualan, menambah dukungan untuk lebih banyak vendor hardware, serta mengimplementasikan fungsi baru ke dalam algoritma mereka. Partner a16z, Guido Appenzeller, akan bergabung ke dalam jajaran direksi perusahaan.
Bagi pelaku bisnis neocloud di Indonesia yang mulai menjamur — dari penyewa GPU untuk AI hingga penyedia jasa training model — solusi seperti Netris bisa menjadi kunci untuk mempercepat waktu operasional dan menekan biaya. Daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk konfigurasi manual, operator bisa langsung fokus menjual kapasitas GPU mereka.