Staf Ahli Bupati Kotim Minta MPA dan Redkar Jadi Garda Terdepan Cegah Karhutla di Musim Kemarau

Penulis: Kurniadi Setiawan  •  Rabu, 24 Juni 2026 | 17:10:27 WIB
Staf Ahli Bupati Kotim minta MPA dan Redkar jadi garda terdepan cegah karhutla di musim kemarau.

SAMPIT — Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) secara resmi meminta Masyarakat Peduli Api (MPA) dan Relawan Pemadam Kebakaran (Redkar) untuk mengambil peran sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan dini kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Staf Ahli Bupati Kotim, Wim RK Benung, menegaskan bahwa keterlibatan relawan sangat dibutuhkan bukan hanya untuk kebakaran pemukiman, tetapi juga untuk mencegah meluasnya karhutla di kawasan hutan dan lahan kosong.

Mengapa MPA dan Redkar Dianggap Kunci?

Menurut Wim, posisi MPA dan Redkar yang berada langsung di tengah masyarakat membuat mereka menjadi pihak yang paling cepat mengetahui potensi maupun kejadian kebakaran. “Keterlibatan MPA atau Redkar sangat dibutuhkan dalam pelayanan pencegahan dan penanggulangan dini kebakaran. Bukan hanya kebakaran pemukiman, tetapi juga ikut melakukan pencegahan dan penanggulangan karhutla,” ujarnya di Sampit, Rabu (24/6/2026).

Wim menambahkan, keterlibatan aktif para relawan ini diyakini mampu membantu menekan jumlah kawasan rawan kebakaran. Ia berharap, melalui upaya pencegahan yang dilakukan secara berkelanjutan, wilayah-wilayah yang selama ini menjadi titik rawan karhutla dapat berubah menjadi daerah yang lebih aman.

Tak Cukup Semangat, Relawan Harus Terampil

Pemkab Kotim tidak hanya menuntut semangat pengabdian dari para relawan. Wim menekankan bahwa MPA dan Redkar harus dibekali pengetahuan serta keterampilan teknis yang memadai dan mumpuni. Hal ini penting agar mereka sigap dalam menghadapi berbagai situasi kebakaran, baik karhutla maupun kebakaran bangunan yang bisa terjadi kapan saja.

“Relawan tetap harus memiliki bekal pengetahuan serta keterampilan yang memadai dan mumpuni. Hal itu berguna dalam kegiatan pencegahan dan penanggulangan dini karhutla maupun kebakaran bangunan yang bisa terjadi kapan saja,” ucapnya.

Sinergi Warga dan Pemerintah Diperkuat

Selain mengandalkan relawan, seluruh elemen masyarakat diajak untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah dalam upaya mitigasi bencana. Wim menegaskan bahwa pencegahan karhutla tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah sendirian. Dibutuhkan keterlibatan aktif masyarakat hingga tingkat desa agar upaya pencegahan berjalan efektif.

“Kita berharap pemahaman masyarakat tentang mitigasi bencana karhutla bisa ditingkatkan, sehingga risiko dan dampak yang ditimbulkan dapat diminimalkan,” demikian Wim menutup pernyataannya.

Reporter: Kurniadi Setiawan
Sumber: tintaborneo.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top