KALIMANTAN TENGAH — Getaran gempa yang terjadi pukul 21.55 WIB dengan kedalaman 18 kilometer itu dirasakan kuat di sejumlah lintasan vital, mencakup jalur Nagreg-Banjar, Cibatu-Garut, hingga Cipatat-Gandasoli. Manajer Humas KAI Daop 2 Bandung, Kuswardojo, menyatakan seluruh kereta di lintas terdampak langsung diperintahkan berhenti luar biasa (BLB) oleh Pusat Pengendali Operasi Kereta Api (Pusdalopka), baik di stasiun maupun di tengah petak jalan.
Tujuh Rangkaian Terdampak, Dua Berhenti di Petak Jalan
Proses penyisiran prasarana berlangsung menyeluruh sebelum jalur dinyatakan aman. Berikut daftar kereta yang perjalanannya sempat tertahan:
- KA (306) Parcel Selatan tertahan di Stasiun Banjar.
- KA (300) Cikuray tertahan di Stasiun Leles.
- KA (292) Kutojaya Selatan berhenti di petak jalan Cibatu-Warungbandrek KM 217+900.
- KA (72) Mutiara Selatan berhenti di petak jalan Cipeundeuy-Cirahayu KM 237+000.
- KA (350) Commuter Line Garut tertahan di Stasiun Wanaraja.
- KA (PLB 80B) Lodaya berhenti di petak jalan Manonjaya-Ciamis KM 289+200.
- KA (PLB 287A) Serayu tertahan di Stasiun Cipeundeuy.
Prosedur Keselamatan: Pemeriksaan Ketat Sebelum Jalur Dibuka
Kuswardojo menegaskan penghentian darurat ini merupakan prosedur tetap yang tidak bisa ditawar. Begitu informasi gempa diterima, petugas prasarana langsung dikerahkan untuk memeriksa potensi pergeseran struktur, kerusakan wesel, serta kondisi jembatan dan terowongan di sepanjang rute terdampak.
"Keselamatan merupakan prioritas utama," ujarnya di Bandung, Kamis (6/8/2026).
Hasil pemeriksaan yang dilakukan jajaran petugas prasarana memastikan tidak ditemukan kerusakan pada infrastruktur operasional. Seluruh perjalanan kereta api yang sempat dihentikan sementara telah kembali dioperasikan secara normal.
KAI Minta Maaf atas Keterlambatan, Imbau Penumpang Pantau Informasi
KAI Daop 2 Bandung menyadari kebijakan ini berpotensi memicu keterlambatan perjalanan. Namun, keputusan tegas tersebut diambil mutlak demi keselamatan jiwa para penumpang—risiko pergeseran rel atau kerusakan jembatan yang tak terdeteksi bisa berujung fatal jika perjalanan dilanjutkan tanpa pemeriksaan.
"Kami memahami adanya potensi keterlambatan yang dialami pelanggan akibat penghentian sementara perjalanan kereta api. Namun langkah ini harus kami lakukan demi memastikan seluruh perjalanan berlangsung dengan selamat, aman, dan nyaman. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi dan mengucapkan terima kasih atas pengertian dari seluruh pelanggan," ungkap Kuswardojo.
Wilayah Pangandaran dan sekitarnya memang dikenal rawan guncangan seismik. Gempa dangkal seperti kali ini kerap memicu kekhawatiran meski belum tentu menyebabkan kerusakan berarti. Yang menjadi catatan, respons cepat KAI dalam menghentikan operasional menunjukkan standar keselamatan yang dipegang ketat di tengah tingginya frekuensi perjalanan kereta di jalur selatan Jawa.