Pencarian

Pedro "Bubista" Brito, Bocah Penonton Maradona di TV Desa Kini Pimpin Cape Verde Lawan Argentina di Piala Dunia 2026

Jumat, 03 Juli 2026 • 23:58:31 WIB
Pedro
Pedro "Bubista" Brito, kapten timnas Cape Verde, memimpin timnya di Piala Dunia 2026.

KALIMANTAN TENGAH — Pria 56 tahun yang akrab disapa Bubista itu bukan pelatih biasa. Nama panggilannya adalah bahasa Kreol untuk pulau kelahirannya, Boa Vista. Di desa terpencil Povoacao Velha, ia kecil hanya punya satu televisi untuk satu desa—bukan per jalan, benar-benar satu unit. Setiap malam Piala Dunia, seluruh warga berkumpul. Di sanalah ia terpaku melihat kehebatan Diego Maradona dan Lothar Matthaus.

Bola dari Kaus Kaki Bekas hingga Kapten Timnas 11 Tahun

Ibunya hanya bisa membuatkan bola dari gulungan kaus kaki bekas. Namun bocah itu tumbuh menjadi kapten Timnas Cape Verde selama 11 tahun. Kini, ia berdiri di pinggir lapangan NRG Stadium, Houston, menyaksikan negaranya menulis ulang sejarah.

Cape Verde lolos setelah enam kali gagal di kualifikasi sebelumnya. Spanyol menumbangkan Uruguay 1-0 di Guadalajara di saat yang sama, memastikan posisi runner-up grup bagi The Blue Sharks. Di babak 32 besar, mereka akan menghadapi Argentina—negara asal Maradona, yang kini memiliki Lionel Messi.

"Setiap Orang Berhak Bermimpi"

Menjelang laga krusial itu, Bubista berujar kepada media, seperti dikutip Indian Express: "Setiap orang berhak untuk bermimpi dan tidak ada yang mustahil."

Ia tidak mengatakannya seperti pidato ilmiah. Ia berbicara sebagai pria yang tumbuh di desa dengan satu televisi dan bermain bola dari kaus kaki. Ia tahu persis harga yang harus dibayar agar negaranya dipandang terhormat oleh dunia.

Euforia Diaspora Cape Verde dari Praia hingga Lisbon

Saat peluit panjang berbunyi, ia percaya orang-orang asing saling berpelukan merayakan kebahagiaan di jalanan Kota Praia, Rotterdam, hingga Lisbon. Rasa rindu mendalam para perantau Cape Verde akan kampung halaman kini terbayar lunas.

Bubista, sebagai bocah dari Povoacao Velha yang sudah melihat hal-hal jauh lebih besar di televisi pinjaman masa kecilnya, akan menatap laga lawan Argentina tanpa rasa khawatir. Ia hanya perlu mengingatkan anak asuhnya: mimpi memang gratis, tapi perjalanan mewujudkannya tidak pernah murah.

Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks