KALIMANTAN TENGAH — Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda terdepresiasi 0,18 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan rupiah pagi ini sejalan dengan mayoritas mata uang utama Asia yang kompak berada di zona merah.
Pesaing Regional Ikut Tertekan, Yuan Justru Menguat
Di kawasan Asia, tekanan terhadap dolar AS tidak merata. Won Korea Selatan menjadi yang terlemah dengan koreksi 0,16 persen, disusul yen Jepang yang turun 0,06 persen. Dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing melemah tipis 0,05 persen dan 0,04 persen.
Namun, yuan China dan peso Filipina berhasil mencatatkan penguatan masing-masing 0,05 persen dan 0,09 persen. Sementara itu, mata uang negara maju semuanya tertekan. Euro, poundsterling, dolar Australia, dan franc Swiss kompak melemah terhadap greenback.
Fokus ke Data Domestik dan Respons Iran
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan bersifat konsolidatif. Investor memilih bermanuver sambil menunggu data neraca transaksi berjalan Indonesia kuartal I-2025 yang dijadwalkan dirilis hari ini.
"Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan, pelaku pasar juga masih mengantisipasi respons Iran terhadap proposal terbaru dari Amerika Serikat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor eksternal yang terus membayangi pergerakan nilai tukar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Proyeksi Pergerakan Hari Ini
Lukman memperkirakan rentang pergerakan rupiah pada perdagangan Jumat ini berada di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS. Level psikologis Rp17.700 menjadi garis pertahanan pertama yang harus dijaga oleh otoritas moneter.
Jika tekanan beli dolar AS berlanjut, bukan tidak mungkin rupiah kembali menguji level terendah dalam beberapa pekan terakhir. Sebaliknya, jika data neraca berjalan menunjukkan perbaikan, potensi penguatan terbatas masih terbuka.