KOTAWARINGIN TIMUR — Ketimpangan akses transportasi di Mentaya Seberang, Kotawaringin Timur, berdampak langsung pada anak-anak sekolah. Mereka kesulitan mengikuti kegiatan yang berlangsung hingga sore hari karena tidak tersedianya angkutan umum setelah pukul 17.00 WIB. Situasi ini memicu kekhawatiran orang tua dan guru akan terbatasnya kesempatan belajar siswa.
Fakta pertama, tidak ada satu pun trayek angkutan umum di Mentaya Seberang yang beroperasi melebihi batas waktu pukul lima sore. Para sopir angkutan umum memilih berhenti lebih awal karena jumlah penumpang yang minim selepas jam kantor. Akibatnya, anak-anak yang mengikuti kegiatan tambahan di sekolah terpaksa pulang dengan berjalan kaki atau menunggu jemputan yang kerap terlambat.
Fakta kedua, anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling merasakan ketimpangan ini. Banyak siswa yang harus memilih antara mengikuti kegiatan ekstrakurikuler atau pulang tepat waktu. Seorang guru di salah satu sekolah dasar di Mentaya Seberang menyebutkan bahwa beberapa muridnya memilih tidak ikut les atau prakarya karena khawatir tidak ada kendaraan pulang.
Fakta ketiga, keterbatasan akses ini memaksa orang tua untuk menyediakan jemputan khusus bagi anak-anak mereka. Tidak semua keluarga memiliki kendaraan pribadi atau waktu luang untuk menjemput anak di sore hari. Beban ekonomi pun bertambah bagi warga yang harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bensin atau ojek informal.
Fakta keempat, kondisi ini bukanlah hal baru. Warga setempat mengaku ketimpangan akses transportasi di Mentaya Seberang sudah terjadi sejak lama. Belum ada solusi konkret dari pemerintah daerah untuk menghadirkan angkutan umum yang melayani hingga malam hari. Beberapa warga berharap ada program bus sekolah atau subsidi angkutan desa untuk mengatasi persoalan ini.
Fakta kelima, dampak paling serius dari ketimpangan ini adalah terhambatnya kualitas pendidikan anak. Kegiatan belajar tambahan, bimbingan belajar, dan ekstrakurikuler yang biasanya diadakan sore hari menjadi tidak bisa diikuti oleh semua siswa secara merata. Guru-guru di Mentaya Seberang mengaku kesulitan menyusun jadwal kegiatan karena harus menyesuaikan dengan jam pulang siswa yang terbatas.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan warga Mentaya Seberang ini. Namun, sejumlah anggota DPRD setempat telah mendorong agar persoalan transportasi di wilayah tersebut masuk dalam prioritas pembahasan anggaran daerah tahun depan.