PALANGKA RAYA — Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Provinsi Kalimantan Tengah berlangsung khidmat dengan kehadiran sekitar 2.000 peserta di Palangka Raya. Momentum ini menjadi istimewa karena dirayakan bersamaan dengan Hari Bumi ke-56 dan Hari Otonomi Daerah ke-30. Sinergi ketiga peringatan tersebut mempertegas komitmen daerah dalam membangun peradaban melalui pendidikan yang berwawasan lingkungan.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, memimpin langsung upacara yang dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Sugianto Sabran. Wamen Fajar tampil mengenakan busana adat Dayak Ngaju lengkap dengan ornamen Lilis Lamiang. Manik-manik tradisional ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol perlindungan dan kehormatan bagi masyarakat lokal.
Dalam amanatnya, Fajar menekankan bahwa pendidikan merupakan proses memanusiakan manusia yang melampaui sekadar transfer pengetahuan. Transformasi pendidikan saat ini diarahkan pada pembelajaran mendalam agar peserta didik mampu berpikir kritis. Langkah ini sejalan dengan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mencetak sumber daya manusia unggul yang berdaya saing global.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan komitmen nyata melalui pengucuran anggaran bantuan perlengkapan sekolah sebesar Rp 58,8 miliar. Bantuan ini didistribusikan secara simbolis kepada perwakilan siswa dari SMA Negeri 3 Palangka Raya, SMK Negeri 4 Palangka Raya, dan Sekolah Khusus Negeri 1 Palangka Raya. Program ini menargetkan jangkauan hingga 37.000 siswa di berbagai jenjang pendidikan.
Wamen Fajar mengapresiasi langkah Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah yang proaktif memperluas akses pendidikan. Selain bantuan perlengkapan, penguatan sarana prasarana dan program beasiswa menjadi pilar utama peningkatan mutu di daerah. Investasi pada sektor ini dianggap sebagai langkah jangka panjang untuk memutus rantai ketimpangan kualitas belajar antarwilayah.
"Guru adalah pusat perubahan. Investasi pada guru adalah investasi jangka panjang bagi masa depan pendidikan kita," tegas Wamen Fajar Riza Ul Haq di hadapan ribuan peserta upacara.
Pada level nasional, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 16,9 triliun untuk revitalisasi satuan pendidikan pada tahun 2025. Program ini menyasar lebih dari 16.000 sekolah di seluruh Indonesia. Untuk tahun 2026, fokus utama akan diarahkan pada sekolah dengan kerusakan berat serta satuan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Kalimantan Tengah sendiri telah mencatatkan 72 satuan pendidikan yang menerima program revitalisasi pada tahun sebelumnya. Pemerintah pusat mendorong percepatan perbaikan infrastruktur sekolah di daerah terdampak bencana agar proses belajar mengajar tidak terganggu. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci agar target revitalisasi ini tercapai tepat sasaran.
Peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru tetap menjadi prioritas utama dalam kerangka transformasi ini. Pemerintah memandang guru sebagai ujung tombak yang menentukan keberhasilan implementasi kurikulum di kelas. Oleh karena itu, berbagai program penguatan kapasitas pendidik terus digulirkan secara bertahap di seluruh provinsi.
Suasana upacara semakin bergetar saat ribuan siswa menggaungkan Ikrar Pelajar Indonesia. Pernyataan kolektif ini mencerminkan janji generasi muda untuk menjunjung tinggi integritas dan karakter kebangsaan. Di tengah tantangan zaman, penguatan karakter dianggap setara pentingnya dengan penguasaan teknologi dan sains.
Simbol kebhinekaan juga tampak jelas melalui doa bersama yang dipimpin oleh perwakilan agama Islam, Kristen, dan Hindu. Tradisi doa lintas agama ini menjadi penanda kuatnya toleransi di Kalimantan Tengah. Sekolah diharapkan terus menjadi ruang aman dan inklusif yang menghargai perbedaan latar belakang setiap peserta didik.
Rangkaian peringatan Hardiknas 2026 ini ditutup dengan ajakan untuk menanamkan kesadaran ekologis kepada siswa. Sejalan dengan Hari Bumi, sekolah-sekolah di Kalimantan Tengah didorong untuk mengintegrasikan pendidikan lingkungan dalam aktivitas harian. Langkah ini bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga peduli pada keberlanjutan alam.