KALIMANTAN TENGAH — Kasus balita yang ditinggal sendirian di dalam tenda saat orang tuanya mendaki ke puncak Gunung Prau menuai sorotan, termasuk dari musisi Fiersa Besari. Ia menilai permintaan maaf seharusnya lebih dulu ditujukan kepada sang anak yang berpotensi mengalami trauma. Berikut rangkuman sorotan dan pelajaran parenting yang bisa ibu ambil dari kejadian ini.
Fiersa Besari angkat bicara soal balita yang ditinggal sendirian di tenda kawasan Gunung Prau. Lewat Instagram Story, ia mengaku menerima banyak pesan dari pengikutnya yang meminta tanggapan atas kejadian viral tersebut.
Alih-alih ikut melontarkan sumpah serapah, Fiersa memilih menyoroti sisi tanggung jawab orang tua. Baginya, ada hal lebih penting yang perlu dibahas ketimbang menghakimi.
Sorotan Fiersa Besari: Maaf untuk Siapa?
Dalam unggahannya, Fiersa menyebut bahwa kecaman terhadap orang tua balita itu sudah diwakili oleh sebagian besar netizen. Ia justru mempertanyakan arah permintaan maaf yang muncul setelah kejadian.
“Rasanya, perihal mengutuk dan menyumpahi orang tuanya, sudah diwakilkan oleh sebagian besar netizen yang membaca beritanya,” tulis Fiersa.
Pernyataan itu menegaskan bahwa fokus utama seharusnya bukan pada pembelaan diri orang tua, melainkan pada kondisi anak yang ditinggal dalam situasi berisiko.
Kenapa Meninggalkan Balita Sendiri di Tenda Berbahaya
Balita belum mampu menjaga diri sendiri, apalagi di lingkungan alam terbuka seperti kawasan gunung. Suhu dingin, akses terbatas, dan kemungkinan tersesat jadi risiko nyata yang sulit diprediksi.
Anak usia bawah lima tahun juga belum punya kemampuan verbal yang cukup untuk meminta bantuan jika terjadi sesuatu. Kondisi ini membuat pengawasan orang dewasa menjadi mutlak, bukan pilihan.
Selain risiko fisik, pengalaman ditinggal sendirian bisa memicu rasa takut mendalam. Pada anak kecil, rasa aman dari kehadiran orang tua adalah fondasi penting bagi perkembangan emosinya.
Potensi Trauma pada Anak Usia Balita
Fiersa secara khusus menyoroti kemungkinan trauma yang dialami sang balita. Ia bahkan mempertanyakan kesiapan seseorang sebelum memutuskan memiliki anak.
“Saya sendiri tidak membenarkan perilaku orang tuanya. Sampai mikir, ‘Ternyata gak semua orang yang bisa bikin anak, pantas merawat anak,’” lanjutnya.
Pandangan ini sejalan dengan pemahaman tumbuh kembang anak. Pengalaman menakutkan yang terjadi berulang atau intens bisa meninggalkan bekas pada cara anak memandang rasa aman dan kepercayaan pada orang dewasa di sekitarnya.
Pelajaran Parenting untuk Orang Tua Muda
Kejadian ini jadi pengingat bahwa aktivitas alam bebas perlu perencanaan matang, terutama bila membawa anak kecil. Memilih lokasi yang ramah anak dan sesuai kemampuan si kecil jauh lebih bijak daripada memaksakan target pendakian.
Jika memang ingin mendaki, pastikan ada pembagian tugas jelas antara ayah dan ibu. Salah satu orang tua tetap mendampingi anak di tenda, sementara yang lain bisa bergantian menikmati jalur.
Alternatif lain, titipkan anak pada pengasuh tepercaya atau keluarga saat melakukan aktivitas berisiko tinggi. Keputusan ini bukan bentuk kegagalan, melainkan bentuk tanggung jawab.
Kapan Perlu Konsultasi ke Psikolog Anak
Bila anak menunjukkan perubahan perilaku setelah mengalami kejadian menakutkan, seperti sulit tidur, rewel berlebihan, atau menolak berpisah dari orang tua, sebaiknya konsultasikan ke psikolog anak. Pendampingan profesional membantu ibu memahami kebutuhan emosional si kecil.
Yang terpenting, jadikan kejadian ini bahan refleksi bersama pasangan. Diskusikan ulang batas aman aktivitas keluarga dan pastikan keselamatan anak selalu jadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap rencana liburan.