PALANGKA RAYA — Data Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut BMKG mencatat konsentrasi partikel halus PM2.5 di Palangka Raya menyentuh 230,8 mikrogram per meter kubik. Angka itu menempatkan kualitas udara ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah ini pada kategori berbahaya (hitam).
Pada siang hari, pekatnya asap membuat suasana kota tampak gelap seperti malam. Jarak pandang menurun drastis hingga mengganggu aktivitas warga di luar ruangan.
Mengapa Langit Berubah Kuning Kecokelatan
Dalam kondisi udara bersih, langit tampak biru karena molekul atmosfer menghamburkan cahaya matahari berpanjang gelombang pendek lebih kuat dibanding gelombang panjang. Partikel asap karhutla mengubah proses itu.
Atmosfer yang dipenuhi partikel padat dari pembakaran vegetasi dan material organik menyerap serta menghamburkan cahaya dengan cara berbeda. Intensitas cahaya yang menembus ke bumi pun berkurang drastis.
Komponen utama yang mengubah warna atmosfer adalah brown carbon, material karbon kecokelatan hasil pembakaran tidak sempurna seperti lahan gambut dan kayu. Brown carbon menyerap cahaya panjang gelombang pendek secara intensif, memicu pergeseran warna langit menjadi kuning, jingga, hingga kecokelatan pekat.
Perubahan warna langit tidak bisa dijadikan tolok ukur langsung seberapa luas api di lapangan. Warna yang terlihat dipengaruhi komposisi partikel, konsentrasi asap, suhu atmosfer, dan posisi sudut matahari.
Bahaya PM2.5 yang Menembus Alveolus Paru-Paru
Partikel PM2.5 berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil tidak mampu disaring bulu hidung. Partikel ini terhirup langsung hingga mencapai alveolus, bagian terdalam paru-paru.
Pakar Paru Universitas Airlangga, Dr. dr. Alfian Nur Rosyid, menjelaskan paparan PM2.5 dari pembakaran lahan gambut memicu iritasi, peradangan, hingga stres oksidatif pada saluran pernapasan.
"Jika paparan PM2.5 ini terjadi lama dan berulang, dapat menyebabkan penurunan fungsi paru, memperberat kondisi penderita asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), serta meningkatkan risiko penyakit paru kronis," ungkap Dr. Alfian.
Membedakan Keluhan Asap dan ISPA
Gejala akibat paparan polusi asap dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sering membingungkan karena sama-sama menimbulkan batuk dan rasa tidak nyaman di tenggorokan. Dr. Alfian memaparkan kedua kondisi ini bisa terjadi bersamaan.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, penderita penyakit komorbid, dan pekerja luar ruangan wajib mendapat perlindungan ekstra. Risiko komplikasi pada kelompok ini jauh lebih tinggi.
Masker N95 hingga KN95 Jadi Pilihan Utama
Masker kain dan masker bedah biasa memiliki efisiensi penyaringan terbatas terhadap partikel mikroskopis PM2.5. Warga diminta memakai masker N95, KN95, atau KF94.
Masker harus terpasang rapat menutup area hidung dan mulut tanpa celah udara di samping wajah. Selain itu, warga diminta mengurangi aktivitas luar ruangan dan menjaga ventilasi tertutup.
- Hindari membakar sampah, menyalakan obat nyamuk bakar, atau merokok di dalam rumah.
- Jangan mengonsumsi antibiotik atau steroid secara sembarangan tanpa petunjuk dokter, karena paparan asap tidak selalu memerlukan antibiotik kecuali terjadi infeksi bakteri sekunder.
- Segera kunjungi fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas menetap, nyeri dada, atau penurunan kesadaran.