PALANGKA RAYA — DPW PKS Kalimantan Tengah membuka akses layanan bagi warga yang menanggung dampak kabut asap karhutla melalui kantor partai di Palangka Raya. Sejak September 2026, kantor tersebut berfungsi sebagai rumah pelayanan, bukan sekadar sekretariat organisasi. Warga yang membutuhkan bantuan kesehatan maupun perlindungan dari asap dapat langsung datang ke lokasi.
Layanan yang tersedia meliputi pembagian masker, pemeriksaan kesehatan, dan oksigen gratis. Selain itu, PKS Kalteng menyiapkan Rumah Aman Asap sebagai tempat perlindungan sementara ketika kualitas udara memburuk.
213 Titik Panas Terpantau di Kalteng
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat 213 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah berdasarkan pemantauan 11 Oktober 2026. Laporan yang diperbarui pada 12 Oktober menyebut kondisi kering masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia. Sebaran asap terpantau meliputi sebagian besar Kalimantan.
Status Siaga Darurat Bencana Karhutla di Kalimantan Tengah sebelumnya ditetapkan BNPB dan berlaku hingga 31 Oktober 2026. Patroli di wilayah rawan, koordinasi lintas instansi, dan ketersediaan sumber air menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran.
Sumur Bor Baru di Lingkungan Sekolah
Relawan PKS Kalteng menambah titik sumur bor, terutama di lingkungan sekolah yang rawan terdampak kebakaran. Penambahan sumber air ini ditujukan memudahkan akses air untuk kebutuhan awal ketika muncul ancaman api.
Keberadaan sumur bor diharapkan mendukung kesiapsiagaan warga dan relawan. PKS Kalteng tetap mengutamakan keselamatan serta koordinasi dengan petugas pemadam kebakaran saat terjadi kebakaran.
Gotong Royong Jadi Kunci Penanganan
PKS Kalteng berharap inisiatif rumah pelayanan dapat menumbuhkan semangat gotong royong. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting dalam menghadapi karhutla yang belum sepenuhnya berakhir.
Sinergi antara relawan, masyarakat, pemerintah, dan petugas terkait diharapkan membuat upaya melindungi kesehatan warga serta menjaga lingkungan Kalimantan Tengah berjalan lebih efektif. Kesiapsiagaan tetap diperlukan seiring ancaman kebakaran yang masih berlangsung.